Entri Populer

Minggu, 26 Juni 2011

Menikmati Keindahan Gua Gunung Putih.



Gunung Putih, begitulah orang-orang sering menyebut salah satu objek wisata yang terkenal di kabupaten bulungan ini. Tempat ini merupakan Gunungan Kapur yang merupakan ikon penting bagi Tanjung Palas yang pada masanya dahulu merupakan ibukota salah satu kesultanan yang paling berpengaruh di utara Kaltim.

Siapapun yang berkunjung ke bulungan, khususnya melewati jalur sungai, jika dari kejauhan melihat Gunung Putih, maka orang-orang akan mahfum jika mereka sudah dekat dengan gerbang Kota tanjung Selor sekaligus memasuki pusat kebudayaan bulungan di Tanjung Palas.



Itulah sebabnya ada semacam pandangan bahwa dimasa lampau ada keterikatan yang penting antara Istana kesultanan Bulungan dengan Gunung putih, keduanya memiliki ikatan yang erat karena bagi sebagian orang bulungan percaya bahwa sejarah Bulungan bukan hanya berbicara mengenai manusia dan segala aktivitas keduniaannya namun juga berbicara antara manusia dengan dunia lain yang ada disekitar mereka, atau dalam bahasa sederhanya mereka percaya sebagian sejarah bulungan dibentuk berdasarkan sejarah mistis, dan gunung putih merupakan salah satu tempat yang dipercayai dihuni oleh mahluk lain sekitar kita yang memiliki keterikatan penting dengan istana bulungan dimasa lampau sekaligus memberi warna tersendiri dalam sejarah mistis bulungan.

Pemandangan Eksotis Gunung Putih.

Dewasa ini gunung putih merupakan salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi sekedar melepas lelah, keindahan gunung putih memang sangat natural, kita disuguhi keindahan pemandangan yang menyejukan mata, ada sungai kecil disisi gunung, kemudian bebatuan yang ukuran cukup besar serta pemandangan hijau yang menyenangkan.



Untuk sampai ke puncak gunung, kita bisa melewati gundukan anak tangga yang lumayan cukup panjang, cocok bagi penggemar Hiking, selain itu jika sudah sampai di teras gunung, pengunjung dapat menikmati pemandangan sambil duduk-duduk santai diatas gudukan bebatuan yang cukup besar, tempat ini bisa juga digunakan sebagai tempat alami menantang adrenalin untuk para pemanjat tebing.

ada dua titik utama yang biasa di kunjungi orang di gunung putih, yaitu dipuncak gunung yang paling tinggi, dari atas sana kita bisa memandang hamparan perumahan penduduk, biasanya para pencinta alam tidak akan melewati momen yang indah itu.



Titik lain yang juga dikunjungi adalah gua bawah tanah yang teletak dibelakang lereng gunung, untuk sampai kesana mungkin sekitar 10 sampai 15 menit dari teras gunung, jalan memutari gunung memberikan pemandangan yang asri bagi pengunjung, sebab dari sisi gunung tersebut belum banyak terjamah tangan-tangan manusia, sehingga menambah keindahan pemandangan di bawahnya. Jalan-jalan yang sudah disemenisasi semakin memanjakan pengunjung untuk menikmati keindahan lereng gunung masih natural tersebut.

Mengintip keindahan gua gunung putih.

Umumnya para pengunjung biasanya berhenti di depan gua, jarang ada yang masuk hingga ke dalam, beberapa tahun belakang ini Pihak Pariwisata Kabupaten Bulungan dan pihak pengembang berusaha melakukan eksplor lebih jauh memasuki dalam gunung, walaupun sejauh ini masih belum cukup terbuka untuk umum karena masih mengalami perbaikan disana sini.



Penulis termasuk yang cukup beruntung menyaksikan keindahan pemandangan bawah tanah gunung putih. Sebelum masuk melalui pintu gua, biasanya ada semacam hawa dingin yang dirasakan pengunjung, disarankan untuk menjaga sikap begitu memasuki area tersebut.

Penulis sendiri pernah melakukan kegiatan susur gua bersama beberapa rekan saat masih kuliah tingkat sarjana sewaktu mengunjungi gua-gua bawah tanah yang alami di kabupaten Tanah Laut, pemandangan digunung putih tak kalah menakjubkan mengingat kawasan ini memang jarang dimasuki manusia.



Untuk memudahkan memasuki gua kita melewati anak tangga yang telah di buat oleh pihak pengembang, dari situ kita sudah disuguhi keindahan lukisan alami yang sangat indah, lengkung gua yang dipadukan hamparan stalagmit memberikan sensasi pengalaman tersendiri.

Ada sedikitnya 42 titik lampu sorot yang di tempatkan pihak pengembang untuk memudahkan dan memandu pengunjung di dalam gua tersebut, ada semacam undakan yang cukup luas di dalam gua, kita masih bisa turun lebih dalam lagi bila berminat, hanya saja menurut penulis masih perlu perbaikan sedikit khususnya jalan berada dibagian bawah dasar gua.



Dari kejauhan kita mendengar suara burung walet, kerena memang kawasan ini merupakan sarang alami bagi burung-burung tersebut, sejauh ini pihak pengembang maupun pengunjung belum ada yang mencoba lebih jauh untuk memetakan labirin-labirin didalam gua, masih banyak misteri yang belum terpecahkan dan masih banyak lagi petualangan yang masih menanti untuk di jelajahi.

Kamis, 14 April 2011

Selayang Pandang Sejarah Mesjid Sultan Kasimuddin.


(Mesjid Sultan Kasimuddin diwaktu senja)

Salah satu harta kekayaan sejarah Bulungan adalah Mesjid Sultan Kasimuddin atau dikenal dengan nama Mesjid Kasimuddin, nama itu sudah sangat dikenal sebagian besar masyarakat Bulungan, namun sejarah yang melikupinya, ternyata tidak setenar namanya. saya akan mengajak kawan-kawan merefres ingatan kita mengenai mesjid bersejarah ini.

Riwayat Singkat Mesjid Kasimuddin.

Mesjid Jami’ Kasimuddin merupakan sebuah masjid bersejarah yang dibangun Peninggalan Sultan kasimuddin(1901-1925), seorang Sultan yang sangat dicintai oleh rakyatnya dan dikenal sangat dekat dengan para ulama, beliau amat gigih melawan pengaruh Belanda di Bulungan, Hal itu tergambar dari ucapannya yang sangat terkenal saat ia menghentikan kebiasaan protokoler yang mengharuskan Sultan menjemput di dermaga ketika pejabat Belanda hendak berkunjung ke isana raja;

“kalau kami sendiri harus menjemput tuan Belanda dari kapal untuk menghadap raja, maka raja mana lagi yang harus dikunjungi, karena saya adalah raja !,“


(teras luar mesjid Kasimuddin, ditempat inilah anak-anak biasanya mengaji Al-Qur'an)

Menurut H. E. Mohd Hasan, dkk, Mesjid Kasimuddin di Bangun sekitar tahun 1900-an, letaknya tak begiru jauh dari bekas mesjid pertama yang dibangun oleh Sultan Datu Alam Muhammad Adil yang berada di dekat tepi sungai Kayan.

Konon pengerjaan mesjid ini langsung diawasi oleh sultan sendiri. asal lokasi tempat mendirikan mesjid kasimuddin, menurut sumber tertulis letaknya kurang lebih 150 meter ke arah darat dari lokasi mesjid pertama, ini artinya dahulu mesjid tua sebelum mesjid Kasimuddin di bangun, lokasinya sangat dekat sekali dari pinggir sungai, sehingga mungkin di khawatirkan pondasinya bisa rubuh dan membahayakan jemaah. kondisi tanah agak becek karena berupa tanah rawa sehingga masyarakat bergotong royong membersihkan dan menimbunnya. uniknya waktu penimbunan tanah pada siang hari untuk kaum laki-laki sedangkan pada malam hari dikerjakan oleh kaum wanita. tidak hanya masyarakat biasa, Sultan Kasimuddin, beserta staf istana dan pegawai mesjid juga turut terlibat penuh dalam pembangunan mesjid bersejarah ini.


(suasana hening dan tenang didalam mesjid Kasimuddin)

Mesjid Kasimuddin memiliki luas 21 X 21 meter dengan model bangunan lama mempunyai tiang penyangga langsung ditengah berjumlah 16 buah yang panjangnya kurang lebih 20 meter dengan besar 25 X 25 centi meter. Mesjid Kasimuddin memiliki 12 buah daun pintu yaitu: 3 buah daun pintu di depan, 3 buah daun pintu di kiri dan 3 buah di kanan masjid, dan 2 dua buah daun pintu lagi di belakang dekat mimbar menghadap ke kompleks kuburan Sultan Bulungan dan keluarga. Pada awalnya lantainya hanya dilapisi oleh tikar, kemudian dengan biaya Sultan Kasimuddin sendiri lantai tersebut dipercantik dengan tehel (marmer) sampai sekarang. Sumber lain menyebutkan marmer dimesjid Kasimuddin diperindah ulang dimasa Sultan Djalaluddin. Juga tak kalah menariknya seni kaligrafi Islam, Khat yang sangat indah bisa dijumpai disetiap sisi dalam mesjid bersejarah ini.

Relasi Mesjid dan Istana.


Dimasa lampau, mesjid Kasimuddin memiliki relasi yang kuat dengan istana Bulungan. pada awalnya para imam mesjid dipilih beradasarkan garis darah turun temurun alias garis keturunan yang terpilih. ini artinya jabatan imam dimasa lampau merupakan jabatan penting yang bersifat otonom, dimana istana tidak ikut campur namun tetap mengakui eksistenisi dan kepemimpinan Imam mesjid tersebut.


(tiga belas pejabat keagamaan yang di lantik oleh Sultan Djalaluddin di Istanan Bulungan pada tahun 1933, penujukan dan penetapan Mufti, Qadi dan para Imam ini, merupakan kelangsungan dari tradisi yang dijalankan dimasa Sultan Kasimuddin. penulis mencoba menelusuri sejarah para Qadi dimasa tersebut berdasarkan sumber lokaL, kemungkinan besar Qadi yang dilantik adalah Hadji Baha'Uddin, ulama asal Minangkabau, sedangkan Mufti kemungkinan besar adalah Hadji Syahabuddin Ambo' Tuwo, ulama asal Wajo yang juga guru mengaji di Istana Bulungan tempo dulu.)

Hal ini dapat dipahami, bahwa ada semacam pandangan bahwa jabatan seorang imam akan lebih baik jika diturunkan pada generasi keluarganya, tentu bukan hanya soal asal usul keluarga namun juga karena pemahaman tentang agama islam mereka yang mumpuni diatas rata-rata masyarakat biasa. Hal ini setidaknya terjadi sebelum reformasi total yang dilakukan oleh Sultan Kasimuddin.

Dimasa Sultan Kasimuddin berkuasa, ia melakukan langkah-langkah penting melakukan islamisasi politik di dalam istana, jabatan keagamaan disatukan dalam satu jawatan dimana Mufti Negeri, Qadi dan Imam Besar memiliki peran dan pengaruh yang semakin besar untuk melakukan pembinaan terhadap umat, namun disisi lain jabatan ini,-Khususnya Imam Besar- tidak lagi otonom karena istana akhirnya masuk lebih jauh lagi.

Dizaman kesultanan, khususnya pada bulan-bulan hijriyah yang penting, ada semacam tradisi berkumpulnya para pemuka agama dan masyarakat serta kerabat kesultanan di istana Bulungan, biasanya diawali dengan tembakan salvo "Meriam Sebenua", khususnya pada awal dan akhir Ramadhan serta malam 1 Syawal.


(ukiran khat yang indah pada langit-langit mesjid Kasimuddin, disinilah agama dan seni menemukan kata sepakat)

Sehari menjelang awal Ramadhan, semua pengawai mesjid termasuk khususnya yang termasuk dalam jawatan agama islam, berkumpul bersama di istana untuk mengadakan tahlilan menyambut ramadhan. selesai acara Sultan biasanya memberikan uang panjar kepada pegawai mesjid atau jawatan keagamaan dimana Qadi dan juga Mufti 35 gulden para Imam 25 gulden, khatib 15 gulden dan Santri 10 gulden. selama Ramadhan seluruh pegawai mesjid dan staf istana tidak ada yang meninggalkan tempat khususelaksanakan tugasnya. sepanjang malam biasanya mesjid ramai dengan acara Tadarus Al-Qur'an baik di Mesjid Kasimuddin maupun istana raja, bahkan makan untuk yang mengaji atau tadarus alquran langsung ditanggung oleh istana, sepanjang Ramdhan Kesultanan juga menyediakan buka puasa dimesjid dan istana Bulungan.

Pada pertengahan Ramadhan, oleh pegawai mesjid besar diadakan acara khataman Al-Qur'an di istana, biasanya mereka kemudian akan diberi hadiah uang panjar, kataman juga dilakukan diakhir bulan ramadhan sekaligus pembagian zakat fitrah oleh pegawai mesjid.

Setiap tanggal 27 ramadhan Sultan mengeluarkan Zakat Maal (harta) dimesjid, tempat sembahyang Tarwih juga disediakan tidak hanya di dalam, namun juga diluar mesjid.

Benda-benda peninggalan di dalam Mesjid Kasimuddin.


peninggalan-peninggalan bersejarah dapat pula kita temui dimesjid ini, diantaranya adalah Beduk dan Mimbar mesjid yang usianya sudah ratusan tahun.


(tampak dari depan tabuh keramat mesjid Kasimuddin)

Beduk di mesjid ini merupakan salah satu peninggalan Islam di Bulungan. Beduk tersebut sekarang ini tersimpan di teras Mesjid Sultan Kasimuddin, usianya diperkirakan lebih dari 200 tahun namun sampai hari ini kayunya masih bagus, menurut kisah yang beredar, beduk tersebut merupakan potongan kayu tabuh (beduk) di mesjid tua yang berada di Baratan.

Konon kayu ini hanyut dari hulu dan terdampar didalam parit dekat lokasi mesjid kasimuddin saat ini, kayu tersebut sudah berbentuk beduk dari awalnya. Maka oleh ketua-ketua kampunga, potongan kayu beduk yang mereka sebut "nenek kayu" tersebut mereka jadikan tabuh mesjid agung tersebut.

Riwayat lain menceritakan ada satu masa orang-orang yang tinggal di hilir kampung Penisir, dihulunya kampung Baratan sekarang, pada malam tanggal 15 bulan Hijriyah yang bertepatan dengan malam jumat, pada tengah malam sering terdengar suara pukulan tabuh atau beduk berirama panjang dan bertalu-talu, kesaksian lain dari masyarakat bahwa disungai pernah dilihat oleh masyarakat berupa dahan-dahan kayu yang masih hidup timbul dan mudik melawan arus air, kemudian tenggelam lagi ke lokasi asalnya, potongan kayu tersebut dipercayai berasal dari lokasi yang sama dimana terlihat fenomena potongan kayu yang melawan arus tersebut.


(ukuran panjang keseluruhan beduk Mesjid Kasimuddin)

Penulis telah melakukan pengukuran terhadap beduk tersebut pada tanggal 13 Januari 2009 jam 04.20 Wita, hasilnya diketahui beduk tersebut memiliki panjang 274 cm, dengan diameter garis tengah 47 cm, dan memiliki ketebalan kayu sekitar 1 inci atau 2,4 cm.

Selain tabuh atau beduk, benda bersejarah lainnya adalah Mimbar yang saat ini terdapat didalam Mesjid Sultan Kasimuddin, merupakan mimbar yang cukup tua umurnya, keistimewaan dari mimbar ini adalah ia sepenuhnya merupakan representasi dari seni ukir Bulungan yang begitu indah.

Pola hias berupa dedaunan sangat menonjol dihampir semua bagian mimbar terutama pada tangga mimbar, kepala mimbar, bagian dalam mimbar yang semuanya diukir dengan sangat teliti serta dilapisi cat berwarna keemasan, mimbar Mesjid Sultan Kasimuddin merupakan salah masterpiech yang sampai sat ini masih dapat dinikmati keindahan dan keberadaannya. Menurut penuturan sumber lokal, mimbar tersebut dibuat dan dihadiahkan oleh seorang kerabat Kesultanan yang sangat ahli dalam seni ukir Bulungan.


(keindahan ukiran pada mimbar mesjid Kasimuddin, salah satu mahakarya Bulungan yang masih bisa kita saksikan hari ini)

demikianlah selayang pandang sejarah mesjid Kasimuddin, semoga kita, generasi mudah bisa lebih menghargai nilai-nilai luhur yang ditinggalkan oleh orang-orang sebelum kita.

Sumber:

H.E. Mohd. Hassan, ddk.“Sejarah Masuknya Islam di Kabupaten Bulungan”,Tanjung Selor 26 November 1981.

Catatan hasil ukuran beduk mesjid kasimuddin, 13 Januari 2009 jam 04.20 Wita, oleh Muhammad Zarkasy. lokasi Mesjid Sultan Kasimuddin Tanjung Palas.

Foto:

Koleksi pribadi Muhammad Zarkasy.

Koleksi Siti Harna Hamad.

Sabtu, 26 Februari 2011

Sniper dari hutan yang gelap (misteri penembakan sultan Kasimuddin).



Sultan Kasimuddin yang merupakan Raja kedelapan dari Dinasty Bulungan merupakan salah satu pigur kontroversial dalam sejarah Bulungan, pada masa kepemimpinannya Bulungan dapat dikatakan memasuki masa keemasan dengan kekayaannya yang melimpah dari kilang-kilang minyak dari perut bumi Tarakan, bukannya hanya itu dimasa pemerintahannya pulalah rakyat bulungan mulai mengenal pendidikan, bahkan putranya Sultan sulaimanpun ia siapkan menjadi penerusnya dengan mengenyam pendidikan barat, tanda bahwa ia seorang pemimpin yang mempunyai visi kedepan untuk kesultanan bulungan, dimasa pemerintahannya, ia juga melakukan perubahan dalam administrasi kerajaan pada masa itu.

Namun walau begitu, ada sisi lain dari pemerintahannya yang membuatnya memiliki catatan “buram” khususnya pada masa-masa awal ia berkuasa, yaitu kebijakan pajak yang akhirnya “meletuskan” pergolakan di hampir sepertiga wilayah kesultanan Bulungan akibat bayang-bayang dan campur tangan kolonial Belanda di Bulungan. Sebut saja perlawanan panglima Wan Pai Luhung dari suku bangsa Segai, begitu pula perlawanan Maharaja Pandhita di tanah tidung (disekitar wilayah malinau). Inilah yang nampaknya memicu rentannya keselamatan sultan Kasimuddin.

Hal ini dapat dipahami, sebab pengaturan pajak sebenarnya bukan atas kehendak sultan melainkan dinas perpajakan kolonial belanda alias Commissie Aanslag dengan sistem pemungutan pajak bernama Collectellon yang diawasi oleh Controleur. di Bulungan tempo itu, pajak dikenakan pada tiap-tiap orang f.15 hingga f.25, tiap orang tambah 0,75 uang kemit atau sen untuk kepala-kepala kampung.

Sultan berusaha meredam pergolakan dan protes dengan cara damai, namun bagi pemerintah kolonial Belanda, menyelesaikan masalah tersebut bukan menggunakan "ujung lidah" -(diplomasi dan musyawarah yang sedari dulu menjadi tradisi bagi kesultanan Bulungan untuk menyelesaikan permasalahan)- melainkan "ujung bayonet", Sultan tidak menyetujui cara-cara seperti itu, karena dimasa ayahnya berkuasa, sempat terjadi kesepakatan damai dengan pihak-pihak yang sempat berseberangan dengan sultan tersebut. namun pendapatnya dianggap angin lalu. toh perlawanan itu tidak bertahan lama setelah campur tangan militer Belanda yang dibawah komando Kapten J.Cox, inilah yang nampaknya menjadi benih-benih perlawanan Sultan Kasimuddin kelak terhadap Belanda di Bulungan.

Sultan Bulungan yang kedelapan ini diketahui meninggal pada saat berburu karena tertembak oleh sniper, memang catatan sejarah kasus sniper bukan tidak pernah terjadi, tengok saja pemimpin pasukan belanda jendral kohler yang tewas saat menyerang aceh, ia tertembak oleh sniper yang masih belia asal Aceh di pekarangan mesjid raya aceh, kasus yang sama juga menimpa Mallabi, pimpinan pasukan pendaratan inggris di surabaya juga tewas ditangan sniper yang berasal dari senapan pejuang Surabaya, namun dalam sejarah Bulungan Sultan Kasimuddin diketahui wafat karena tertembak sniper misterius, sebuah peristiwa sejarah yang tak lazim, inilah yang kemudian menimbulkan pertanyaan apa motif dari pelaku penembakan tersebut? siapa dalang dibalik pembunuhan itu? Dimana tempat kejadiannya? Bagaimana peristiwa itu terjadi? Yang juga penting adalah kapan peristiwa itu terjadi?. Inilah yang membuat kasus tersebut menjadi warisan abadi dari sejarah Bulungan.

Selain itu sebuah fakta yang menarik adalah dalam kajian arkeologis yang dilakukan terhadap makam raja-raja bulungan oleh Balai Arkeologi Banjarmasin sekitar tahun 2000-an, didapati fakta yang cukup mengejutkan penulis, pada nisan Sultan Kasimuddin, tidak ditemukan inkripsi yang memuat tanggal wafatnya beliau, sedang pada nisan Sultan bulungan sebelum beliau ditemukan nisan-nisan tersebut rata-rata memiliki inkripsi yang menunjukan tanggal wafatnya, begitu pula pada makam pemimpin setelah beliau, juga ditemukan inkripsi yang memuat informasi tanggal wafatnya. Inilah yang menyulitkan para peneliti untuk mengetahui kapan persisnya waktu meninggalnya sultan Kasimuddin.

Sebuah informasi berharga penulis dapatkan dari koleksi foto KITLV tentang Sultan Kasimuddin dari katalog yang uraiannya mayoritas ditulis oleh J.H. Maronier dengan Kode Gambar 34446 dan diperkirakan diambil pada tahun 1920-an, memberikan informasi tentang Sultan Kasimuddin.



“Maulana Sulthan Mohamad Kasimoedin, sultan van Boeloengan op Borneo vanaf januari 1903 tot aan zijn dood in oktober 1924.” Terjemahnya, Maulana Sulthan Muhammad Kasimuddin, Sultan Bulungan di pulau kalimantan (bertahta) sejak Januari 1903 dan dia meninggal pada Oktober 1924.

Dari keterangan yang diperoleh dari catatan Foto Sultan Kasimuddin bahwa beliau bertahta pada tahun 1903 dan wafat pada Oktober 1924, maka kita ketahui bahwa kejadian tersebut terjadi pada Oktober 1924, namun kita tetap mencari bahan bandingan terhadap informasi tersebut, lalu apa pula motif dari penembakan ini? agak sulit memang untuk mencari motif dari pelaku, sejauh ini penulis belum mampu mengunggap apa motif pasti dari pelaku tersebut, begitu pula dalang dibalik peristiwa itu, walaupun demikian tidak menutup kemungkinan sniper tersebut adalah pelaku tunggal. Dan yang lebih disayangkan lagi tidak banyak memang catatan yang dapat kita manfaatkan karena minimnya sumber informasi.

Peristiwa yang menimpa Sultan Kasimuddin nampaknya bukan sesuatu yang mudah untuk “diketahui” untuk umum, terbukti dari adanya kesan yang nampaknya sengaja tidak memberi ruang informasi pada publik, hal itu dapat dilihat dari tidaknya adanya keterangan pada makam beliau, dan almarhumpun menutup kejadian tersebut untuk tidak diketahui oleh rakyatnya sampai akhirnya beliau menutup mata. Sejauh ini kita hanya bisa mengetahui bahwa peristiwa itu terjadi di sekitar bulan Oktober 1924.

Jika dilihat dari kepemilikan senjata, tentunya pikiran kita baik secara langsung maupun tidak akan berfikir pemerintah belanda mungkin berada di balik kejadian tersebut terkait tentang kilang-kilang minyak di Tarakan yang memang memberikan pendapatan besar bagi Bulungan dan Belanda, seperti yang di klaim dalam sejarah bulungan, sultan kasimuddin pernah memutuskan kebijakan yang mulai menghapus sistem upeti, karena Sultan berpendapat bahwa uang bagi hasil dari produksi minyak di Pulau Tarakan untuk Belanda sudah lebih dari cukup, pastilah membuat marah di pihak Belanda, kejengkelan Belanda kian memuncak, karena Sultan menghilangkan tradisi Kesultanan Bulungan menjemput tamu Belanda sebelum merapat di depan istana Sultan.

Sultan Kasimudddin juga menggiatkan pengajaran agama islam dan memperbesar wewenang Qadi, bahkan sebelum ia meninggal, sultan sempat mengunjungi negeri, Belanda tahun 1923, menariknya walaupun Sultan menampakkan perlawanan terhadap pihak kolonial, namun pihak belanda tidak satupun yang meminta sultan mencabut atau meminta maaf atas sikapnya, ini menandakan bahwa beliau sangat diperhitungkan oleh pihak kolonial, pengalaman pahit dimasa awal ia berkuasa nampaknya semakin berpengaruh besar terhadap sikapnya untuk menentang kolonial belanda di bulungan.

Nampaknya memang logis, pendapat tersebut sejauh ini memang dipegang dan diyakini oleh beberapa pengkaji sejarah yang mengkaji sejarah kesultanan Bulungan khususnya pada masa Sultan kasimuddin, bahwa kolonial belanda terlibat penuh dalam konspirasi tersebut, sebagaimana yang pernah mereka lakukan terhadap Sultan Datuk Alam Muhammad Adil. namun kajian sejarahpun tidak menutup kemungkinan "terbuka" dalam hal pandangan-pandangan ataupun fakta-fakta baru tentang peristiwa tersebut, sejauh dapat dipertanggung jawabkan.

sumber:

Copy naskah ketikan Datuk Perdana, “Risalah Riwayat Kesultanan Bulungan th 1503 M atau th 919 H”, t.th.

Laporan Penelitian Arkeologi, Penelitian Arsitektur Makam Raja-Raja Di Wilayah Kalimantan Timur II Kabupaten Berau dan Bulungan. Tanggal 02 s/d 15 Agustus 2000.

Arianto, Sugeng. Agustus 2003. “Kerajaan Bulungan 1555-1959”. Malang : Skripsi Sarjana Pendidikan Sejarah Fakultas Sastra UGM.

Monografi Daerah Tingkat II Bulungan diterbitkan oleh Proyek Pengembangan Media Kebudayaan DITJEN, Kebudayaan Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan R.I., Jakarta, 1976.

Wadjidi, 2007.”Nasionalisme Indonesia Di Kalimantan Selatan 1901-1942”. Cetakan Pertama. Banjarmasin : Pustaka Benua.

Senin, 14 Februari 2011

Koleksi Unik dan Menarik Museum Kesultanan Bulungan.


Berbicara mengenai sejarah dan budaya Bulungan, kita tentunya tidak bisa melewatkan begitu saja mengenai koleksi-koleksi sejarah dan budaya Bulungan yang tak ternilai harganya itu yang saat ini disimpan dengan baik di Museum Kesultanan Bulungan, museum ini di bangun sekitar tahun 1999, dengan desain arsitektur yang mengacu pada model keraton kesultanan Bulungan dengan skala yang lebih mini.

Banyak hal yang unik dan menarik, seakan terlewat begitu saja disekitar kita, tak terkecuali jika kita berkunjung ke museum Kesultanan Bulungan atau yang lebih dikenal dengan nama museum Bulungan, namun percaya atau tidak museum kebanggan masyarakat Bulungan ini menyimpan koleksi yang “tak biasa” yang mungkin agak sulit ditemukan pada tempat sejenis.

Saya akan membawa anda berkelana untuk menyaksikan sebagian keunikan benda-benda tinggalan sejarah Bulungan yang mungkin akan jarang anda temukan di tempat lain, mudah-mudahan ini akan merubah sedikit persepsi anda mengenai museum Bulungan ini. inilah persembahan dari Bulungan untuk dunia! ...

1. Sikat gigi paling mahal di Bulungan.


Kalau saya ditanya, apa saja koleksi bulungan yang unik dan “tak biasa” , saya akan memulainya dengan koleksi sikat gigi paling mahal dan bersejarah dari Bulungan, anda boleh percaya atau tidak jauh sebelum produk sikat gigi menjadi bagian dalam kehidupan moderan masyarakat Bulungan, benda bernama sikat gigi itu sudah dikenal di lingkungan istana bulungan.

Salah satunya adalah koleksi yang diperkirakan milik Sultan Bulungan yang terakhir, sikat gigi ini menjadi istimewa karena bentuknya yang “tak biasa” terdiri dari bulu sikat yang lembut dipadukan dengan kemewahan gagang yang sepenuhnya terdiri dari besi putih atau mungkin perak murni, tersimpan dengan rapi dalam kotaknya yang berwarna putih. sayangnya belum tau pasta gigi seperti apa yang digunakan saat itu ^_^ .

2. Delphin Filter.


Jika melihat koleksi unik yang satu ini, saya jadi teringat dengan galon air mineral isi ulang, ya Delphil Filter adalah semacam galon isi ulang tempo dulu, tapi tentu saja dengan tambahan kemewahan yang menawan karena dilapis dengan keramik mahal bermutu tinggi. sayangnya koleksi ini mungkin hanya satu-satunya yang dapat diselamatkan di museum kesultanan Bulungan ini.





3. Meja yang berkilau dari Bulungan.


Sekilas, koleksi ini tampaknya hanya meja kayu kuno yang biasa-biasa saja, itu kalau anda tidak memperhatikannya dengan seksama, tapi tau kah anda bahwa meja kuno yang tampak tidak menarik ini sebenarnya dibuat dari lapisana potongan-potongan mutiara murni yang terbaik dikelasnya, secara artistik di sematkan sesuai pola-pola ukiran meja sehingga menambah keindahan meja kuno ini.

Salah satu keistimewaan meja kuno yang berkilau ini adalah, meja ini sebenarnya tidak terdiri dari satu potongan, melainkan dari dua potongan meja yang disambung dan dilepas sesuai kebutuhan. itu sebabnya meja kuno ini tampak dari jauh terdiri dari empat kaki, walau sebenarnya kalau anda jeli, anda pasti kan tau kalau meja ini terdiri dari delapan kaki yang saling disambungkan.

4. Piring termahal dari Bulungan.


Sewaktu kecil saya pernah mendengan sebuah kisah tentang sebuah kerajaan yang sangat kaya sampai-sampai saat sang raja menjamu para tamunya, ia menggunakan piring, sendok dan gelas yang terbuat dari emas, dan setelah selesai jamuan sang raja memerintahkan untuk membuang semua perabot makan di kolam dibelakang istananya seolah memperlihatkan pada tamunya bagaimana kekayaan dan kebesaran yang dimiliki kerajaannya.

Saya menyadari hal tersebut bukan hanya sekedar dongeng belaka, percaya atau tidak dimasa jayanya Kesultanan Bulungan menjamu para tamunya dengan piring mewah yang uniknya, pada bingkai piring itu dibuat dari sepuhan emas murni, beberapa koleksi Bulungan yang dapat diselamatkan dapat kita saksikan sampai hari ini, mungkin di museum ini, saya menemukan sebuah piring yang setara dengan potongan emas.

inilah sebagaian dari koleksi-koleksi unik dan menarik dari museum kesultanan Bulungan yang bisa kita saksikan hari ini, semoga kita bisa lebih menjaga dan menghargai sejarah dan budaya yang telah ditorehkan para pendahulu kita. Sampai jumpa ^_^ .

Foto:
Koleksi Museum Kesultanan Bulungan.

Diplomasi dan dukungan Kesultanan Bulungan terhadap R. I.


(Peristiwa Penggerekan bendera sangsaka merah putih di halaman istana Bulongan)

Ada pepatah kuno mengatakan “lepas dari mulut singa jatuh kemulut buaya”, seperti itulah gambaran yang dialami oleh Kesultanan Bulungan sesudah tentara Australia menghancurkan Jepang di Tarakan dalam operasi Oboe One, Belanda berusaha mendapatkan kembali pengaruhnya dikawasan Kesultanan Bulungan, terutama karena hal ini berhubungan dengan kilang-kilang minyak di pulau Tarakan. Setelah Jepang menyerah pada sekutu dan meninggalkan Bulungan, bala tentara Nederland Indie Civil Adminitration (NICA) amembonceng sekutu menguasai kesultanan Bulungan dengan persenjataan lengkap. Sebelumnya di Tarakan, terjadi penyerahan kekuasaan dari Australia ke pihak Belanda yaitu kepada Commandeerrend Officier Vnd, J. D. Emeis Gress Major inf., menjadi penguasa baru di Tarakan sebagai perwakilan resmi Kerajaan Belanda. Pada masa-masa genting seperti inilah kepemimpinan “Dua Serangkai” Sultan Djalaluddin dan Datuk Bendahara Paduka Raja serta tokoh-tokoh lain yang pro Republik sangat cemerlang melihat peluang untuk mengadakan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda, yang memang sudah sangat lama tidak disukai oleh rakyat kesultanan Bulungan, uniknya dalam perlawanan ini politik diplomasi menjadi ciri khas dan begitu mendominasi dalam sejarah perlawanan Kesultanan Bulungan terhadap pemerintah Kolonial Belanda, ini tidak hanya terjadi menjelang masa kemerdekaan namun juga jauh sebelumnya, setidaknya sebelum Sultan Djalaluddin, kedua Sultan terdahulu Sultan Datu Alam Muhammad Adil dan Sultan Kasimuddin telah melakukannya, ini membuktikan bahwa perlawanan rakyat Kesultanan Bulungan terhadap Belanda sebenarnya tidak pernah terhenti.

Bukanlah hal yang mudah untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda pada masa itu, Sultan melakukan politik diplomasi yang begitu licin sehingga bukan hanya Belanda saja yang tertipu namun pemerintah Indonesia juga sempat tidak menyadari bahwa saat itu Kesultanan Bulungan dan rakyatnya berada di pihak Republik, ini disebabkan Sultan pada masa tersebut pernah mendapat anugrah gelar kehormatan berupa Letnan Kolonel Tituler (Letkol Kehormatan) dari Ratu Wihelmina (1890-1948) yang kemudian di tindak lanjuti dengan upacara Birau selama 40 hari 40 malam pada tahun 1947. Beliau mengambil jalan diplomasi untuk menghindari korban dari pihak sipil, itulah sebabnya beliau menerima “separuh hati” penggabungan Kesultanan Bulungan dalam “Dewan Kesultanan” yang berintikan Kesultanan Kutai, Berau (Gunung Tabur dan Sambaliung), Swpraja Gaya Baru (Nieuw Stijk Zelfs Bestuur) Pasir, dan Kesultanan Bulungan. Dewan Kesultanan sendiri diketuai oleh Sultan Kutai yang bernama Sultan Adji Mohammad Parikesit.

Dewan Kesultanan merupakan perwujudan dari suatu daerah yang oleh belanda diberi status satuan ketatanegaraan yang berdiri sendiri. Dalam melaksanakan pekerjaan pemerintahan sehari-hari, dewan kesultanan membentuk sebuah Bestuurs –college yang merupakan majelis pemerintahan yang diketui oleh A. P. sosronegoro, kemudian di ganti A.R. Afloes. Selain itu dibentuk pula sebuah badan perwakilan yang diberi nama Dewan Kalimantan Timur. sebagai ketua mula-mula di tunjuk M.D Saad, seorang hoofdcommies di kantor residen. Residen Van Oost-Borneo bertindak sebagai penasihat. Federasi kalimantan timur dan dewan kalimantan timur dilantik oleh Gubernur jendral H. J Van Mook bulan september 1947. H. J Van Mook sendiri marupakan penggagas dari federasi Dewan Kesultanan tersebut, sebagai upaya menciptakan negara-negara boneka yang berada dibawah pengaruh pemerintah Kolonial Belanda.

Tanpa diketahui oleh pihak Belanda, Sultan ternyata sangat aktif menggalang dukungan terhadap Republik melalui serangkaian pertemuan secara rahasia yang dilakukan oleh utusan beliau Datuk Bendahara Paduka Raja kepada Sultan Gunung Tabur dan Sultan Sambaliung untuk mendukung penuh republik Indonesia bersama rakyat Kesultanan Bulungan, lebih jauh dukungan secara terbuka diberikan oleh Kesultanan Bulungan terhadap Sutan Syahrir yang kala itu menjadi “Duta keliling” Republik Indonesia untuk menggalang dukungan menghadapi agresi Belanda terhadap Indonesia yang baru saja berdiri menjadi sebuah negara, Sultan juga terkesan membiarkan bahkan melindungi kader-kader partai pro Republik yang bergerak melakukan perlawanan politik terhadap pemerintah Belanda, keberadaan Partai Ikatan Nasional Indonesia (INI) di Bulungan adalah contoh nyata keberpihakan Kesultanan Bulungan terhadap Republik.


(Pertemuan jang di gagas Datuk Bendahara Paduka Radja dengan dua Sultan dari Berau)


Perjuangan lewat Jalur politik melawan Belanda di Bulungan pada saat itu juga tidak lepas dari peran partai politik Ikatan Nasional Indonesia ( INI) yang berdiri di Balikpapan pada tanggal 5 Juni 1946 dengan Aminudin Nata sebagai Ketua Umumnya dan Mas Sarman sebagai Wakil Ketua, sedangkan Sekretariat di Pegang oleh A.B.S Muhammad (seorang Bestuurs-ambtenaar) dan Husein. Pengurus lainnya terdiri dari S. Mewakang Nata bidang Pertanian dan M. Junus sebagai Bendahara. Dalam Dewan Partai duduk antara lain Tajib Kesuma, Moedjio dan Abdul Samad. Sejak itu dengan cepat berdiri Cabang-cabang INI di luar Balikpapan seperti di Kota Bangun (A.B.M. Joesoef), Tenggarong (A.B. Djapri), Tanjung Redeb (M. Joesoef) dan untuk wilayah Bulungan (Tarakan) dibawah kendali Rasjid (Abdur Rasjid). Kemudian atas prakarsa Moeis Hassan bentuklah cabang INI di Samarinda tanggal 3 Desember 1946, menyusul kota lainnya seperti Sanga-sanga, Anggana, Samboja, Tanjung Selor, Sangkulirang dan beberapa tempat di pedalaman Kutai.

Pada konfrensinya yang pertama tanggal 31 Mei 1947 di Balikpapan yang dihadiri oleh sebagian cabang-cabangnya, INI dengan tegas menolak pembentukan Negara Kalimantan dan menyatakan bahwa dalam menentukan nasib rakyat Kalimantan, wakil-wakil rakyat harus diikutsertakan. Selain itu konfrensi juga menuntut dibebaskannya tahanan politik diseluruh Kalimantan Timur. dan pada konfrensinya yang kedua bulan April 1948 bertepat di Gedung Nasional di kota Samarinda menegaskan ulang sikap mereka yang tidak akan bekerja sama dengan Belanda. Delegasi dari Bulungan di hadiri oleh Rasjid (Abdur Rasjid). Beliau inilah yang kemudian berjasa menggalang kekuatan rakyat Bulungan dilapisan bawah untuk menentang Belanda lewat jalur politik.
Karena itu bukan hal yang tidak mungkin hubungan rahasia antara Sultan Djalaluddin dan Datuk Paduka Raja dengan kelompok pro Republik seperti partai Ikatan Nasional Indonesia atau INI yang menjadi penghubung kaum Republiken untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah Kolonial Belanda sudah lama terjalin. Indiksi ini terlihat dari pembagian tugas yang rapi dimana ditingkat elit, Sultan Djalaluddin dan Datuk Paduka Radja berhasil melakukan lobi politik pada penguasa Kesultanan Sembaliung dan Gunung Tabur untuk mendukung sepenuhnya Republik Indonesia, sedang dilapisan bawah, Abdur Rasjid dan kelompoknya yang tergabung dalam Dewan Rakjat Kesultanan Bulongan melakukan lobi politik untuk meyakini rakyat bergabung sepenuhnya dibelakang Republik, kelak pertemuan tokoh-tokoh politik dan negarawan ini dalam upacara penaikan bendera merah putih di halaman istana Kesultanan Bulungan pada 17 Agustus 1949, menjadi semacam bukti yang nampaknya meyakinkan bahwa tokoh-tokoh yang terkesan saling berbeda pandang itu ternyata rekan satu seperjuangan yang akhirnya mengantarkan Belanda keluar dari Bulungan.
Berita kemerdekaan Indonesia disambut antusias oleh Sultan dan segenap rakyat Kesultanan Bulungan, perasaan haru dan gembira tumpah ruah saat sangsaka merah putih dikibarkan dihalaman istana Kesultanan Bulungan. peristiwa penting ini terjadi pada tanggal 17 Agustus 1949. Sebelumnya pada malam tanggal 16 agustus tersebut, Sultan dan Datuk Bendahara Paduka Raja langsung melakukan pemeriksaan pada tiang Bendera yang akan digunakan pada acara pengibaran sangsaka merahputih pada esok harinya, Sultan khawatir kalau ada aksi sabotase dari pihak-pihak yang ingin mengacaukan acara tersebut. Tiang bendera yang menjadi bukti dan simbol kesetiaan rakyat Bulungan pada republik Indonesia masih berdiri kokoh sampai hari ini. Sedangkan bendera merah putih yang dikibarkan merupakan bendera yang diberikan oleh Kumatsu petinggi Jepang yang juga mengabarkan kepada Sultan dan segenap rakyat Kesultanan Bulungan bahwa Bangsa Indonesia sudah merdeka dan memproklamirkan diri pada 17 Agustus 1945.

Pada tanggal 17 Agustus 1949, pukul 07.00 WITA, Sultan Muhammad Djalaluddin sendirilah yang memimpin upacara penggerekan Bendera merah-putih pertama kalinya di halaman istana kerajaan. Bertindak sebagai penaik bendera merah putih pada saat itu adalah Pejabat Kiai (Asisten Wedana) di Tanjung Palas, P. J. Pelupessi, sahabat Sultan Djalaluddin. Sebagai tamu undangan turut juga hadir Controleur NICA di Tanjung Selor yaitu J.H.D. Linhoud.


(Rasjid berpose bersama anggota INI di Samarinda)

Dalam kesempatan yang sama, ketua Dewan Rakyat Kesultanan Bulungan yakni Abdur Rasjid yang mewakili seluruh Rakyat kesultanan Bulungan menyampaikan pidato selamat pada hari keramat tanggal 17 agustus 1949. sayangnya, teks pidato Abdurasjid itu nampaknya tidak dapat lagi ditemukan, kemungkinan besar sudah hilang atau hancur dimakan usia. Pengibaran bendera Merah-Putih di depan Istana Sultan di kawal oleh puluhan tentara-tentara KNIL dan polisi NICA yang bermarkas di Tanjung Selor, mereka diangkut ke Tanjung Palas menggunakan kapal-kapal resmi milik Belanda yang dikenal dengan sebutan kapal “BEATRIX”. Pada tanggal 27 Desember 1949 pihak Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia. Sikap Sultan dan segenap rakyat Kesultanan Bulungan menjadi bukti kecintaan mereka terhadap Republik Indonesia, yang menarik peristiwa ini terjadi justru setahun sebelum Dewan Kesultanan di bubarkan secara resmi pada 19 maret 1950, itu artinya jauh sebelumnya Dewan Kesultanan sebenarnya sudah tidak lagi memiliki pengaruh di Bulungan.

Peristiwa ini sendiri digambarkan dengan baik dalam sebuah memorie yang ditulis mengenai kondisi pada saat itu: De anti Nederlandse geest breidde ini de voornaamste gebieden van dit gewest zicht zoodaning uit, dat hetbestuur ijverde voor de invoering van corlog …, de verkiezing van afgvaardigden voor ee Boerneo conferentie word een totale mislukking on kregan de enkele gekezen afgevaardigden Als mandaat mede de aansluiting hij de republik. (semangat anti Belanda telah tersebar luas di daerah ini, sehingga pemerintah berusaha untuk memberlakukan dalam keadaan perang …, Pemilihan utusan ke konfrensi pembentukan negara kalimantan gagal total, karena beberapa utusan yang terpilih memperoleh mandat pengabungan dengan Republik).


(Ketua Dewan Rakjat Kesultanan Bulongan Jakni Abdur Rasjid menjampaikan pidato utjapan selamat pada hari keramat tanggal 17 agustus 1949 atas nama rakjat seluruh wilajah Keradjaan Bulongan).

Di kota Tarakan, terjadi juga penyerahan kekuasaan dari NICA yang yang waktu itu di pegang oleh Commandeerend Officer Vnd, J. D. Emeis Gress Majoor Inf., kepada Wedana Tarakan Haji Abdoellah Gelar Aji Amarsetia. Tarakan pada saat itu berada dibawah kekuasaan Kesultanan Bulungan yang memutuskan bergabung dengan Republik Indonesia. Bung Hatta selaku Wakil Presiden Republik Indonesia saat berkunjung Tarakan tahun 1950 menyatakan penghargaannya atas perjuangan rakyat Kesultanan Bulungan. Dari delegasi Republik Indonesia, kunjungan diwakili oleh Residen Madju Urang dari Samarinda melakukan kunjungan ke Istana Kesultanan Bulungan, Darul Aman pada tahun tersebut.

Setelah bergabung dengan RI, posisi Kesultanan Bulungan sebagai wilayah swapraja dimantapkan melalui surat Keputusan Gubernur Kalimantan Timur Nomor 186 / ORB / 92 / 14 tertanggal 14 Agustus 1950 yang kemudian disahkan menjadi UU Darurat 3 / 1953 dari pemerintah Negara RI. Kemudian wilayah Bulungan berdasarkan UU N0. 22 /1948 menjadi Daerah Istimewa Bulungan. Keputusan itu membuat Sultan Djalaluddin menjadi Kepala Daerah Istimewa yang pertama hingga akhir hayatnya tahun 1958.

Daftar Pustaka:

Hassan, H. A. Moeis, 1994. “Ikut Mengukir Sejarah”. Jakarta: Yayasan Bina Ruhui Rahayu.Ali Amin Bilfaqih, H. Said. 2006.

“Sekilas Sejarah Kesultanan Bulungan dari Masa ke Masa”. Tarakan : CV. Eka Jaya MandiriDali, H Yusuf. 1995.

“Pesona Dan Tantangan Bulungan”. Jakarta : LKBN Antara.

Sabtu, 22 Januari 2011

Sultan Djalaluddin II (1931-1959) dan Agresi Jepang di Bulungan.


(Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin)

Kali ini kita akan membahas mengenai Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin atau lebih dikenal dengan nama Sultan Djalaluddin, salah seorang Sultan yang patut diperhitungkan dalam perjalanan sejarah Bulungan, bernama asli Datuk Tiras, ia kemudian naik tahta setelah menggantikan keponakannya Sultan Akhmad Sulaiman yang tidak lama menjabat dikarena meninggal karena sakit, Sultan Akhmad Sulaiman hanya bertahta sekitar beberapa bulan saja yaitu antara tahun 1930-1931, sebelum Akhmad Sulaiman naik tahta, pemerintahan dipegang oleh pemangku yaitu Datuk Mansyur yang menggantikan sementara pasca meninggalnya Sultan Kasimuddin.

Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin atau lebih Sultan Djaluddin II, dinobatkan menjadi Sultan pada tahun 1931, ia kemudian membangun lagi istana di hilir istana yang kedua disebut juga dengan nama Kraton III. Pada masanya memerintah, beliau nampaknya melakukan perampingan dalam jabatan pos kementrian. Para menteri Kesultanan dibagi menjadi empat jabatan yaitu: Sekretaris Sultan, Datuk Bendahara Paduka Raja (Menteri ke I), Datuk Perdana (Menteri ke II) dan Datuk Laksamana Setia Diraja (Menteri ke III).

Dimasa beliau inilah kota Tanjung Palas ditata dengan rapi, dan secara administratif dibagi menjadi tiga kampung yaitu Tanjung Palas Hulu, Tanjung Palas Tengah dan Tanjung Palas Hilir. Pendidikan agama modern pertama secara klasikal juga terjadi dimasa beliau berkuasa, dimasa itu Bulungan memilki dua sekolah yaitu Al-Ma’rif dan Al-Ulum, selain itu terdapat pula sekolah sederhana yang didirikan oleh organisasi Musyawaratutthalibin di kampung pasar. Bagi hasil minyak yang dikelola oleh pemerintah Kolonial Belanda, digunakan untuk mensejahtrakan rakyat, dimasa beliau inilah rakyat mendapatkan aliran listrik secara gratis, begitupula perbaikan perumahan, mereka mendapatkan dana talangan langsung dari kas istana.


(Sultan Djalaluddin beserta menteri Kesultanan Bulungan)

Sayangnya kondisi tersebut tidak berlangsung lama, tahun 1942 perang Pasifik pecah, Seperti kata pepatah “tak ada kekuasaan hamba-Nya dimuka bumi ini yang abadi” Belanda akhirnya harus menelan pil pahit akibat serangan Jepang atas Tarakan tahun 1942 dalam peristiwa “perang dua hari” tersebut. Sebenarnya pilihan tentara Jepang untuk meluaskan kekuasaannya karena mereka tergoda oleh pesona “Minyak bumi dan karet” yang mereka perlukan untuk mempertahankan keutuhan produksi dalam negeri mereka.

Hal ini di sebabkan Jepang membutuhkan suplai minyak untuk kebutuhan industri di negaranya, cadangan minyak jepang pada waktu itu hanya bertahan 18 bulan terhitung dari bulan Desember 1941 saat mereka untuk pertama kalinya melibatkan diri dalam perang dunia kedua. Apalagi sejak Juli 1941 pihak Belanda sengaja memutuskan suplai minyak ke Jepang dengan cara memberlakukan larangan exspor minyak dan sumber-sumber bahan mentah lainnya untuk kebutuhan industri dari Hindia Belanda ke Jepang sebagai tanggapan atas tindakan jepang yang menyerang Tiongkok, sehingga mengakibatkan perang terbuka antara Tiongkok dan Jepang tahun 1937. Apa yang dilakukan Belanda juga di ikuti Amerika Serikat, Inggris dan sekutu barat dengan menerapkan embargo ekonomi terhadap Jepang tahun 1941, sikap Belanda itu tentunya sangat menyakiti pihak Jepang, ini dikarenakan Belanda merupakan negara Eropa yang memiliki hubungan yang sangat erat dengan Jepang sejak lama, karena itu jelaslah sikap Belanda yang memihak Tiongkok saat itu oleh Jepang dianggap sebuah penghianatan yang tak termaafkan.

Sebenarnya jauh sebelum pecah perang Pasifik, sudah terjadi persaingan ekonomi antara Jepang dengan dengan Negara-negara barat, disinilah apa yang disebut sebagai letak kecurangan bangsa barat, mereka tidak suka adanya negara industri di Asia seperti Jepang, dengan alasan sebagai pelindung Demokrasi dan keadilan, mereka menekan Jepang dengan berbagai embargo ekonomi, tapi secara bersamaan mereka justru menjajah bangsa Asia, Amerika Latin dan Afrika.


(Ladang Minyak di Tarakan)

Pihak Kolonial Belanda juga mempunyai andil yang besar untuk mempercepat jatuhnya Bulungan khususnya kota Tarakan ke tangan Jepang. Dalam bidang militer Belanda termasuk negara kolonial yang lamban melakukan moderenisasi peralatan militernya, akibatnya sebagian besar persenjataan yang digunakan untuk menghadapi Jepang termasuk persenjataan yang ketinggalan jaman bahkan tidak sedikit peninggalan perang dunia pertama, kalaupun ada yang terbilang canggih, itupun masuk daftar persenjataan kualitas kelas dua alias bermutu rendah. Contohnya bisa dilihat pada usaha Belanda untuk memodernisasi angkatan udaranya (Militaire Luchtvaart), Belanda berusaha mendapatkan pesawat-pesawat canggih dari Amerika Serikat, namun karena tidak ingin pengalaman buruk di Indo-Cina Prancis terulang, dimana persenjataan Amerika dirampas oleh Jepang, maka permintaan Belanda tersebut tidak ditanggapi sepenuh hati oleh Amerika. Belanda hanya di izinkan untuk membeli produk militer kelas dua dari Amerika serikat, akibatnya petinggi Belanda menjatuhkan pilihannya pada perlengkapan militer seperti Boomber Glen Martin, pesawat tempur Curtis Hawk dan “si gendut” Browster Buffalo.

Pesawat-pesawat tersebut ditempatkan di Tarakan, dengan komposisi lima pesawat tempur jenis Brewester Bufallo dan tiga buah pengebom (bomber) Glenn Martin, satu pesawat terbang amfibi (Floatpalne) Belanda Dornier DO-24K, produk militer lain yang sempat digunakan Belanda untuk mempertahankan tarakan adalah empat pucuk meriam 40 milimeter bikinan Bofors (swedia), empat pucuk arteleri pertahanan udara 20 milimeter dan selusin mitraliur 12,7 milimeter serta kekuatan kavalari Belanda hanya di lengkapi tujuh kendraan lapis baja (overvalwagens). Nasib sial pemerintah Kolonial Belanda semakin bertambah karena KNIL (Koninkluk Nederlandsch Indisch Leger), tentara Kompeni yang disiapkan Belanda untuk mempertahankan kepulauan Hindia-Belanda ternyata 80% tidak siap bertempur, ini karena KNIL memang hanya didik untuk menghancurkan pemberontakan pribumi bukan sebagai tentara yang memang disiapkan untuk menghadapi agreasi atau serangan negara lain. Itulah sebabnya KNIL memang punya taring hebat menghadapi pemberontak pribumi yang tentu saja kurang persenjataan, tapi begitu melawan Jepang mereka malah tidak bisa berbuat banyak.

Yang lebih parahnya lagi, Belanda ternyata kalah saing terhadap agen-agen rahasia Jepang, di Tarakan sebelum terjadinya pecah perang pasifik, Jepang dengan sangat baik membangun jaringan mata-mata hampir diseluruh kawasan asia Timur dan Tenggara, mereka menyamar sebagai buruh, nelayan, pengusaha perkebunan dan lain sebagainya. Mereka sangat rinci mencatat keadaan perekonomian, keadaan alam, letak geografi, kedalaman pasang surut air laut bahkan mereka juga mengetahui jumlah orang Belanda, dimana mereka bekerja dan berapa jumlah keluarga mereka serta informasi lain yang dibutuhkan, apa yang berlaku di Tarakan ini, nampaknya juga terjadi dikawasan Tanjung Selor yang merupakan garnisun KNIL di Bulungan.

Kesalahan lain juga terlihat, Kitimura salah seorang Jepang yang menyamar menjadi orang Cina, ternyata malah menjadi kontraktor untuk membangun kubu pertahanan sekutu, hasilnyapun sudah dapat diketahui: Belanda sudah kalah sebelum berperang.

Masa pembalasan Jepang atas Belanda dan sekutu Eropanyapun akhirnya tiba, Tahun 1942 perang Pasifik pecah, Angkatan Perang Kekaisaran Jepang melakukan serangan kilat atau Blitzkrieg secara serempak di wilayah Asia Tenggara, sebelumnya tentara Jepang menyerbu Pearl harbor tanggal 7 desember 1941. Strategi perang modern Jepang diawali serangan mendadak yang melibatkan koordinasi gempuran udara, darat, dan laut meniru strategi tentara Nazi Jerman di Eropa. Serangan serempak itu berlangsung dimedan tempur yang membentang 5.800 mil (sekitar 10.440 kilometer) dari Malaya-Filipina-Pearl Harbor hingga kepulauan Aleut di sebelah barat Alaska.


(Panglima Angkatan Laut Jepang yang termasyur, Admiral Takeo Kurita)

Tentu saja peristiwa ini sangat merugikan pemerintah Kolonial Belanda terutama terbakarnya kilang-kilang minyak minyak di pulau Tarakan yang tersebar di wilayah barat pulau Tarakan, sasaran Jepang sebenarnya ladang-ladang minyak di seluruh kepulauan Nusantara, dan secara geografi sumber minyak terdekat dengan kekuatan Jepang yang sudah berpangkalan di Davao, Mindanao (Filipina Selatan) adalah pulau Tarakan itulah sebabnya Panglima Angkatan Laut Jepang yang sangat termasyur, Admiral Takeo Kurita memerintahkan satuan Khusus Angkatan Laut Jepang mengambil alih Pulau Tarakan, sesuai rencana gurita tengah (Central Octopus). Unit tempur ini bergerak dari dua arah di utara melalui Kepulauan Filipina dan satuan dari Kepulauan Palau di utara Papua di bawah komando Mayor Jenderal Shizuo Sakaguchi. Mereka meninggalkan Davao di Mindanao Filipina Selatan sejak Tanggal 7 Januari langsung menuju sasaran pertama di kepulauan nusantara yaitu pulau Tarakan. Pasukan besar ini terdiri dari kekuatan gabungan dari Nihon Rikugun (AL) dan Teikoku Kaigun (AD), Angkatan Perang kekaisaran Jepang ini berjumlah kurang lebih 20.000 prajurit.

Komandan pasukan Belanda pada masa itu adalah Letnan Kolonel (overstee) S. de Waal, untuk mempertahankan Pulau Tarakan dari serbuan tentara Jepang, beliau mengkonsentrasikan kekuatan pertahanan Angkatan Perang Belanda di wilayah sebelah barat pulau Tarakan, hal itu dikarenakan obyek vital seperti kawasan pemukiman, pelabuhan laut, pelabuhan udara Juata (Croydon Airstip), dan industri perminyakan tersebar di sebelah barat pulau ini. Sedangkan disisi timur pulau hanya ada perbukitan dan hutan belantara. Itulah sebabnya Belanda menempatkan satuan artileri pantai (kustartillerie) buatan Krupp und Essen Jerman ukuran 75 mm di pantai barat di Tanjung Juata, Lingkas, Karungan dan Peningki Lama. Satuan kompi arteleri ketiga di tugaskan di Tarakan di bawah pimpinan Kapten M. J. Bakker membagi satuan arteleri dalam sejumlah baterai yang di pimpin Letnan Satu Van der Zijde, asal Afrika selatan, Letnan Satu J. W. Storm van Leeuwen, Letnan Satu J. P. A.Van Adrichem, asal Afrika Selatan, dan Letnan satu J. Verdam. Sementara itu, satuan arteleri ringan (luchtdoelartillerie) dipimpin Letnan Dua T. Nijenhuis, Asal Afrika Selatan. Satuan ini mengandalkan empat pucuk meriam 40 milimeter bikinan Bofors (swedia), empat pucuk arteleri pertahanan udara 20 milimeter dan selusin mitraliur 12,7 milimeter. Kekuatan kavalari Belanda hanya di lengkapi tujuh kendraan lapis baja (overvalwagens).

Pasukan yang menjaga pulau Tarakan pada masa itu terdiri dari 1.300 personil, mereka merupakan gabungan dari Angkatan Darat Belanda / KNIL (Koninkluk Nederlandsch Indisch Leger), Angkatan Udara Belanda (Militaire Luchtvaart) dan Angkatan Laut Hindia Belanda (Zeemach Nederlands Indie) bahkan Manajer BPM (Bataafsce Petroleum Maatschapij) Anton Colijn yang berpangkat Tituler Kapten, menugaskan 40 personilnya untuk mendukung milisi mempertahankan Pulau Tarakan. Gabungan pasukan ini saling bahu-membahu mempertahankan Kepulauan Nusantara sebagai kebanggaan terakhir dari De Koningin (Ratu Belanda) melawan Angkatan Bersenjata Jepang, sedangkan Ratu Wihelmina sendiri sejak bulan Mei 1940, sudah mengungsi ke London.

Karena hanya memiliki empat pesawat tempur jenis Brewester Bufallo dan tiga buah pengebom (bomber) Glenn Martin yang jumlahnya sedikit untuk menghadang kedatangan musuh, maka de Waal menitik beratkan pertahanan di darat dan di sekeliling pantai pulau tersebut dengan menebar ranjau laut, Letnan Komandan AC van Versendaal, komandan satu-satunya kapal peyebar ranjau Prins van Oranje, betul-betul di sibukan dengan tugas menanam ranjau di sekitar perairan di Pulau Tarakan, hasilnya dalam waktu singkat seluruh perairan Tarakan di tutupi ranjau laut. Tidak ketinggalan juga sebuah kapal selam K-10 yang dipimpin Letnan P. G. de Back juga ikut melakukan patroli perairan sekitar Tarakan hingga Selat Makassar.

Pada tanggal 9 januari, kapal perang Prins van Oranje mendapat serangan udara dari pihak Jepang. Prins van Oranje hanya mengalami kerusakan ringan. Satu pesawat Jepang kemungkinan tertembak jatuh dalam serangan hari itu, walaupun demikian pesawat terbang amfibi (Floatpalne) Belanda Dornier DO-24K, tetap melakukan patroli rutin di atas wilayah udara Tarakan. Sehari kemudian tanggal 10 januari, pesawat itu melaporkan bahwa Armada Angkatan perang Kekaisaran Jepang tiba di perairan Tarakan dan siap mendekati pulau tersebut, armada itu terdiri dari dua kapal penjelajah berat (heavi Criuser), delapan kapal perusak (destroyer) di tambah iringan kapal pengangkut pasukan mendekati Tarakan dari timur. Konvoi tersebut melepas jangkar sepuluh mil di timur Tarakan dan kapal pengangkut bersiap mendaratkan pasukan. mengetahui hal itu, Letkol. S. de Wall langsung mengambil keputusan untuk melakukan menghancurkan semua fasilitas perminyakan beserta seluruh ladang-ladang minyak di pulau Tarakan, semua ini dimaksudkan untuk menghindari jatuhnya sumur-sumur minyak ketangan Jepang. Seluruh ladang minyak, tangki penyimpanan raksasa, jaringan pipa di Juata, Gunung Tjangkoel, berikut pompa dan dan gudang penyimpanan material di bakar Belanda. Suasana saat itu benar mengerikan, seolah-olah seluruh pulau Tarakan terbakar, dari laut pasukan pendarat Jepang melihat seluruh daratan Tarakan seperti neraka.

Pasukan pendarat Angkatan Perang Kekaisaran Jepang terbagi dalam pasukan sayap kanan dan sayap kiri menyerang pantai timur Tarakan, Jepang berhasil mengelabui pasukan pertahanan Belanda yang berada di pantai barat pulau Tarakan. Pasukan sayap kiri pertama mendarat di sekitar pantai Pantai Amal tengah malam sekitar pukul 12.00 tanggal 11 januari 1942, dan 30 menit kemudian diikuti oleh satuan Khusus Angkatan Laut Kure (pasukan sayap kanan). Satuan pasukan sayap kanan bergerak lebih dalam ke daratan di daerah sebelah utara ladang minyak, mereka mengepung sebuah bukit yang cukup penting. Namun tembakan senapan mesin dan senapan laras panjang Belanda sangat gencar, sehingga hampir mustahil untuk bergerak maju,. Pihak Belanda melengkapi pertahanan mereka dengan peralatan perang yang sangat sedikit, seperti senjata bekas perang dunia pertama yaitu Water Mantel Machine Gun berhasil menghalangi pasukan Jepang di sekitar kampung satu dan ladang minyak di sebelah utara Tarakan. Tapi itu tidak bertahan lama, pasukan Jepang berhasil mengalahkan mereka.


(Ilustrasi kedatangan tentara Jepang di Bulungan).

Satuan kavaleri Belanda yang jumlahnya sekitar tujuh buah itu, terlibat pertempuran di kawasan Pamoesian, unit ini berperang melawan pasukan sayap kanan Jepang. Tapi akhirnya mereka dikalahkan juga. Pada pagi harinya, Letkol (overstee) S. de waal akhirnya menyerah dan kemudian mengirim utusan dengan membawa bendera putih sebagai tanda gencatan senjata dan sebuah tawaran untuk menyerah. Kolonel Kyohei Yamamoto, komandan pasuka sayap kanan, langsung mengirimkan telegram kepada komandan Detasemen Sakaguchi yang memberitahukan bahwa pihak Belanda menyerah. Akhirnya satuan khusus pendaratan Kure ke-2 bergerak maju dengan cepat, mereka langsung menuju ke lapangan udara Juata (Crodon Airstrip) dan menguasainya menjelang pagi hari tanggal 12 Januari. Tarakan pun Akhirnya jatuh ketangan tentara Jepang dalam waktu dua hari. Setelah memukul mundul tentara KNIL dan menduduki kota minyak Balikpapan tanggal 23 Januari 1942, barulah tiga belas hari kemudian tepatnya pukul 03.00 tanggal 05 February 1942, sepasukan tentara Jepang akhirnya menduduki Tanjung Palas dan Tanjung Selor dengan tanpa pelawanan yang berarti.

Sayangnya kita tidak mendapatkan banyak catatan yang menerangkan bagaimana persisinya apa yang terjadi saat mendaratnya pasukan Jepang di Tanjung Selor dan Tanjung Palas saat itu, hanya yang dapat kisahkan dari catatan-catatan tertulis bahwa pada saat itu banyak orang-orang mengungsi keluar dari kota Tanjung Selor dan Tanjung Palas untuk mendapatkan perlindungan di perkampungan kecil yang tidak jauh dari pusat kota tersebut, selain itu Sultan Bulungan, Sultan Maulana Djalaluddin II akhirnya menyerah dan mengakui keberadaan Jepang di wilayah Kekuasaannya. Karena itu dapat diduga sebelumnya kedatangan Pasukan Jepang di Tanjung Selor pada saat itu, terkait upaya untuk membersihkan sisa-sisa tentara KNIL dan khususnya orang-orang Belanda yang ada di Tanjung Selor pada saat itu.

Kekejaman tentara Jepang saat pendudukan pulau Tarakan memang luar biasa, seluruh awak baterai pantai Karungan yang berjumlah 84 orang (satuan pertahanan pantai yang sempat menenggelamkan kapal penyapu ranjau Jepang) dilempar hidup-hidup kelaut dengan tangan yang terikat dan di bagi dibagi dalam kelompok kecil berjumlah tiga orang. Selanjutnya 219 tentara Belanda di tenggelamkan di pesisir Pantai Tarakan. Jumlah keseluruhan Tentara Belanda yang tewas tidak di ketahui pasti. Tapi di perkirakan lebih dari separuh pasukan Belanda tewas dalam dua hari pertempuran di Tarakan. Secara keseluruhan Jepang menawan 871 tawanan perang Belanda. Di pihak Jepang sendiri Rikugun (Angkatan Laut) 8 orang tewas, Kaigun (Angkatan Darat) sebanyak 247 orang jiwa. Dari 247 jiwa tersebut 200 orang tewas di laut sedangkan sisanya 47 orang tewas di darat. Selain itu 18 orang lainnya juga tewas dalam serangan pesawat pengebom (bomber) Glenn Martin Belanda.

Sumber:

Santoso, Iwan. 2004. Tarakan “Pearl Harbor” Indonesia (1942-1945). PT Gramedia Pustaka Jakarta.

Adrian B. Lapian, Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX, Jakarta, Komunitas Bambu, Agustus 2009.

Zulkarnen, Datuk Iskandar-, dkk. 1995. “Pesona Dan Tantangan Bulungan”. Jakarta : LKBN Antara.

Jumat, 21 Januari 2011

Kesultanan Bulungan Pasca Datu Alam Muhammad Adil.


(Sultan Kaharuddin II, berkuasa antara 1875 hingga 1889)

Dalam keadaan berkabung, Dewan Kesultanan akhirnya mengangkat cucu Sultan Khalifatul Alam Muhammad Adil, anak dari Maharaja Lela yang bernama Ali Kahar yang bergelar Sultan Kaharuddin II (1875-1889) dengan harapan mampu meneruskan kebijakan kakeknya, namun tekanan-tekanan politik yang menyebabkan tidak stabilnya pemerintahan pada masa-masa awal pemerintahan Sultan kaharuddin II akhirnya membuat Sultan dengan berat hati akhirnya menandatangani perjanjian kerjasama (Konteverklaring de tweede II) pada Juni1878 pokok perjanjianya yaitu: Belanda dapat menentukan kebijakan sultan Bulungan termasuk urusan pajak dan Sultan Kaharuddin terjamin keamanannya. Dalam catatan pemerintahan Belanda, pada tanggal 2 Februari 1877 diterbitkan Ordonantie berupa Staatsblad (surat keputusan) nomor 31 tentang kekuasaan mengatur kerajaan Bulungan yang membawahi Tanah Tidung, Pulau Tarakan, Nunukan, Pulau Sebatik, dan Beberapa pulau kecil di sekitar. Bahkan, Surat Keputusan itu di kukuhkan kembali pada 15 maret 1884 oleh Sekretaris kerajaan Belanda di Bogor.

Kerja sama itu ternyata menjadi pemicu serangkaian kebijakan Belanda yang merugikan Kesultanan Bulungan, karena pada 1 Maret 1897 menerbitkan Staatsblad nomor 83 yang ditandatangani Gubernur Jenderal Hindia Belanda A. D. H. Heringa. Isinya mengatur penyerahan tanah beberapa kerajaan di kalimantan kepada Belanda. Kondisi ini membuat posisi tawar politik Kesultanan Bulungan menjadi sangat sulit, sehingga Sultan jelas tidak mudah mengambil sikap untuk menolak Konteverklaring de tweede II seperti yang pernah dilakukan oleh kakeknya, Sultan Khalifatul Alam Muhammad Adil, karena situasi yang tidak menentu dan tidak berimbangnya kekuatan militer Bulungan terhadap Belanda yang sudah mulai menancapkan pengaruhnya di Bulungan, khususnya semenjak meningkatnya kekuatan sejata api dan penggunaan kapal uap yang digunakan oleh Belanda. Hal ini ditopang pula melemahnya kekuatan armada laut Bulungan setelah sempat pecahnya perang laut antara Kesultanan Bulungan dan Gunung Tabur pada 1862, karena itu jelas Sultan Kaharuddin II tidak ingin banyak korban sipil yang lebih besar lagi jika berhadapan langsung dengan militer Belanda. Keberadan armada Angkatan Laut Inggris yang bermarkas di Labuan, yang sewaktu-waktu dapat bergerak cukup dekat di tapal batas Kesultanan Bulungan di utara juga nampaknya juga menjadi penentu lain mengapa pilihan sulit tersebut akhirnya diambil oleh Sultan Kaharuddin II.

Kesultanan Bulungan saat itu benar-benar terjepit diantara dua raksasa kolonial yang tengah bertarung memperebutkan supremasi dan kendali atas pulau Kalimantan, Inggris di utara dan Belanda dari Selatan Bulungan. Itulah sebabnya mengapa keputusan ini seumpama buah simalakama bagi Sultan Kaharuddin II karena beliau harus menangung beban sejarah dipundaknya. Sultan Kaharuddin II berkuasa sekitar 14 tahun, beliau akhirnya wafat tahun 1889 M / 1307 H dan dimakamkan di kompleks makam kesultanan Bulungan di gunung Seriang, para arkeolog menyebut kompleks makam tersebut dengan nama kompleks makam Gunung Seriang II.


(J. Jongejans, Controleur Van Boeloengan).

Pengaruh Belanda terhadap Bulungan semakin besar, kebijakan yang dijalankan pasca wafatnya Sultan Datu Alam Muhammad Adil adalah mencoba lebih ikut campur dalam struktur pemerintahan Kesultanan Bulungan. Dalam menjalankan roda pemerintahan pemerintah Kolonial Belanda melakukan pengawasan terhadap Kesultanan Bulungan, mereka menempatkan wakilnya yang dikenal dengan nama Controleur. Controleur merupakan sebuah jabatan yang berlaku aktif sejak tahun 1827, dulunya sebelum Controleur jabatan sejenis disebut dengan Opziener. Sesuai dengan fungsinya mereka bertugas mengumpulkan pajak bumi di wilayah Karesidenan yang menjadi wilayah kerjanya. Petugas ini kemudian menjadi Directie voor de Cultures. Jenjang karier Controleur ini dibagi menjadi tiga tingkatan yang dapat naik pangkat sampai pada jabatan dalam dinas pemerintahan yaitu Asisten Residen atau Residen. Itulah sebabnya walaupun Kesultanan Bulungan berbentuk Zelfbestuurende Landschapen atau pemerintahan istimewa, namun pada hakikatnya kesultanan Bulungan sebenarnya berada dibawah pengawasan Asisten Residen yang kaki tangannya disebut Controleur tersebut.

Pembenahan di lingkungan pemerintahan lokal oleh Pemerintah Belanda dilakukan secara bertahap. Controleur yang semula bertugas sebagai pegawai pajak, sesuai dengan Staatsblad. 1872 nomor 225 secara definitif digabungkan dengan Dinas Pangreh Praja (di kalimantan jabatan ini disebut dengan Kyai) yang sebenarnya hal ini sudah terjadi setengah abad sebelumnya. Kepada Asisten Residen diperbantukan dua atau tiga Controleur, sebagai pembantu Asisten Residen yang tidak mempunyai kekuasaan sendiri. Mereka bertugas mengawasi apakah perintah kepalanya (Asisten Residen) dikerjakan, mengamati tentang apa saja yang berkaitan dengan kesejahteraan dan perkembangan rakyat. Sebagai pejabat di tingkat bawah, Controleur mengetahui tentang adat istiadat masyarakat, kesehatan, pertanian, peternakan, dan lain-lain dalam wilayah Afdeeling tersebut. Controleur juga diwajibkan membantu Pangreh Praja Bumi Putera dalam melaksanakan tugasnya, mengingatkan apabila ada kekurangan, dan sebagainya. Kepada Asisten Residen dan Residen, Controleur memberikan segala keterangan yang penting seperti apabila ada pejabat Bumi Putera yang bersikap kritis dan reaktif terhadap penguasa Kolonial bila perlu disertai dengan usul karena ia adalah mata-telinga Asisten Residen dan Residen.

Untuk Kesultanan Bulungan Controleur di tempatkan di Tanjung Selor dengan merangkap pulau Tarakan dan di Malinau, selain itu seperti yang dijelaskan sebelumnya Belanda juga menempatkan seorang Controleur di Muara Tawao hingga daerah tersebut diambil oleh Inggris. Pada tahun 1922 dipedalaman Bulungan, seorang Controleur ditempatkan di Malinau dan setahun kemudian, 1923 seorang Asisten Residen untuk wilayah Boelongan en Berao ditempatkan di Tanjung Selor. Kemudian baru pada tahun 1938 kedudukan Asisten Residen Boelongan en Berao dipindahkan ke kota Tarakan sampai waktu penyerahan kemerdekaan pada RI. Saking besarnya pengaruh kekuasaan Controleur atas wilayah kerjanya, untuk mengangkat seorang pejabat pada tingkat kecamatan atau Onder Distrik saja harus mendapat persetujuan lebih dahulu dari Controleur.
Sayangnya sejauh ini, hanya ada dua Controleur van Bulungan yang dapat dilacak oleh penulis yaitu Controleur bernama Mayers (1921-1922) dan seorang Controleur terakhir yang sempat menghadiri penyerahan kedaulatan atas Bulungan yang bergabung kepada Republik Indonesia pada tahun 1949 yaitu Controleur J.H.D. Linhoud.

Pada tahun 1901 dimulailah pajak penghasilan yang dikenakan pada rakyat, maka pada tahun tersebut diangkatlah 3 orang Districthoofd (semacam kepala distrik) dan kepala-kepala kampong, dikawasan Hulu Sungai Kayan (pedalaman) oleh pemerintah Hindia-Belanda diangkatlah Posthouder-Posthouder (kepala pos). Belanda nampaknya menggunakan dalil perjanjian kerjasama (Konteverklaring de tweede II ) pada bulan Juni 1878, yang ditanda tangani Sultan Kaharuddin, salah satu pokok perjanjianya terpentingnya adalah: Belanda dapat menentukan kebijakan sultan Bulungan termasuk urusan pajak.

Besaran nilai pajak ditetapkan oleh pemerintah Belanda melalui sebuah badan yang disebut dengan Commisie Aanslag, dan sistem pemungutan pajak dikenal dengan nama Collectellon. Di Bulungan, besaran pajak yang dikenakan pada tiap-tiap orang adalah Rp 15 hingga Rp. 25, ditambah 0,75 kemit (picis) untuk tiap-tiap kepala kampung.
Kedudukan-kedudukan Districthoofd tersebuat adalah sebagai beriku: (1). Districthoofd Tanjung Palas dingkatlah Haji Datu Mahkota. (2). Districthoofd Sesayap adalah Datuk Bestari. Dan, (3). Districthoofd Sembakung di jabat oleh Andin Kamsah. Kesemuanya diangkat berdasarkan surat keputusan Srie Sultan Bulungan dan kekuasaan Districthoofd Tanjung Palas hanya membawahi wilayah Tanjung Palas saja, untuk Tanjung Selor dan tanah-tanah yang termasuk empat persegi (Virtekand Vaal) beserta penduduknya berada dibawah kekuasaan Gouvernemen Hindia Belanda.

Gubernur Jendral Belanda kemudian membentuk wilayah administrasi yang dikenal dengan nama Afdeling Oost Borneo, sejak tahun 1910 hingga 1930 Colonial Belanda telah menyusun struktur pembagian kekuasaan dikalimantan timur, kesultanan Bulungan tercatat dalam Onder Afdeling IV yang membawahi dua Districk, yang pertama adalah Districk Bulungan yang terdiri dari Onder Districk (1). Muara Pangean, (2). Tarakan dan (3). Long Nawang (Apo Kayan). Distrik kedua adalah Distrik Sesayap yang terdiri dari Onder Districk (1). Sembakung, (2). Mentarang, dan (3). Krayan.

Selanjutnya tahun 1930-1942 an, terjadi lagi perubahan wilayah administrasi, sesuai dengan Besluit Gubernur Jendral (Staatsblad 1938 nomor 264) terhitung sejak 1 Juli 1938 diadakan lagi tiga Provinsi atau Eilandgewest, yaitu Sumatra, Borneo (Kalimantan) dan Timur Besar (Groote Oost) dengan berturut-turut ibukotanya Medan, Banjarmasin dan Makassar.

Tahun 1938 itu pula keluar Besluit Gubernur Jendral (Staatsblad 1938 nomor 352) yang mengatur lebih lanjut tentang tiga Provinsi tersebut. Mengenai Gewest Borneo ditentukan bahwa ibukotanya Banjarmasin, dan dibagi dalam dua bagian yaitu Residentie Zuider en Oosterafdeling van Borneo yang berkedudukan di Banjarmasin dan Residentie Westerafdeling van Borneo bertempat di Pontianak. Wilayah kesultanan Bulungan masuk pada Afdeling Zuider en Oosterafdeling van Borneo (Afdeling Selatan dan Timur Borneo) dengan berstatus Swapraja.

Swapraja Bulungan (Onderafdeling Bulungan) dibagi menjadi empat Onder Districk yaitu:
A. Districk Bulungan membawahi satu Onder Districk yaitu Tanjung Palas.
B. Districk Tanah Tidung (Tidungsche Landen) membawahi empat Onder Districk yaitu 1) Malinau, 2). Sembakung, 3). Mentarang, 4). Krayan.
C. Distric Tarakan Onder Districk tetap berkedudukan di Tarakan.
D. Districk Apo Kayan tetap berkedudukan di Apo Kayan (Long Nawang).

Kembali kesejarah Bulungan, setelah Sultan Kaharuddin II mangkat, beliau digantikan
oleh menantunya yang bernama Si Gaeng yang bergelar Sultan Azimuddin, beristrikan Putri Sibut, anak keempat dari Sultan Kaharuddin II. Si Gaeng sendiri memiliki garis keturunan langsung dengan Sultan Bulungan terdahulu, Sultan Kaharuddin I. Prosesi pengangkatan Sultan Azimuddin mendapat pengesahan Gubernur Belanda di Batavia melalui surat keputusan tertanggal 4 Desember 1889.


(Kediaman Asisten Resident Belanda di Samarinda).

Restu dari Gubernur Jenderal Belanda, tidak membuat Sultan Azimuddin mati langkah dalam menjalankan politik kemasyarakatannya. Bahkan, ia mencoba mencari peluang diantara tekanan Belanda pasca konteverklaring de tweede II dengan menjalankan misi sosial bagi kepentingan rakyatnya. Sultan Azimuddin dalam masa pemerintahannya tercatat pula beberapa peristiwa penting diantaranya meredam pergolakan di pedalaman dengan cara damai dan usaha pembicaraan mengenai perbatasan dengan pihak Inggris.
Setelah berkuasa selama 10 tahun, akhirnya Sultan ke-7 dalam sejarah Kesultanan Bulungan ini, wafat pada tahun 1899. Selanjutnya tampuk pemerintahan pun di pegang oleh istrinya Putri Sibut (Pengian kusuma) didampingi oleh Datu mansyur hingga tahun 1901. Putri Sibut merupakan satu-satunya pemimpin wanita dalam sejarah Kesultanan Bulungan, ia menggantikan posisi sementara suaminya, karena putra tertuanya Datu Belembung belum cukup umur menjadi Sultan. dari hasil perkawinannya dengan Sultan Azimuddin, ia dikaruniai tiga orang anak yaitu: Datu Belembung, Datu Tiras dan Datu Muhammad yang kemudian memberikan warna penting dalam perjalanan sejarah Kesultanan Bulungan.

Sumber:

Copy naskah ketikan Datuk Perdana, “Risalah Riwayat Kesultanan Bulungan th 1503 M atau th 919 H”, t.th.

Dali, H Yusuf. 1995. “Pesona Dan Tantangan Bulungan”. Jakarta : LKBN Antara.

H. Said. Ali Amin Bilfaqih, “Sekilas Sejarah Kesultanan Bulungan dari Masa ke Masa”.

Laporan Penelitian Arkeologi, Penelitian Arsitektur Makam Raja-Raja Di Wilayah Kalimantan Timur II Kabupaten Berau dan Bulungan. Tanggal 02 s/d 15 Agustus 2000.

Arianto, Sugeng. Agustus 2003. “Kerajaan Bulungan 1555-1959”. Malang : Skripsi Sarjana Pendidikan Sejarah Fakultas Sastra UGM.

Monografi Daerah Tingkat II Bulungan diterbitkan oleh Proyek Pengembangan Media Kebudayaan DITJEN, Kebudayaan Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan R.I., Jakarta, 1976.

Wadjidi, 2007.”Nasionalisme Indonesia Di Kalimantan Selatan 1901-1942”. Cetakan Pertama. Banjarmasin : Pustaka Benua.

Adrian B. Lapian, Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX, Jakarta, Komunitas Bambu, Agustus 2009.