(Ilustrasi mengenai Tari Jugit)
Tari jugit, hampir semua orang Bulungan tahu, paling tidak pernah mendengar namanya. Memang tari jugit merupakan salah satu pencapaian seni tertinggi di bidang tari pada zamannya, saat budaya istana Bulungan masih tegak berdiri.
Membahas tari jugit agaknya kurang rasanya bila tak menyelami hikayat penarinya, pengalaman dan pelatihan yang pernah di alami dan di lakoni sang seniman.
Tari Jugit, pencapaian tertinggi seni tari istana Bulungan.
Bila merujuk hikayat yang menyelubunginya, tari jugit yang dikenal saat ini tidak lahir dengan sendirinya, menurut riwayat tradisional Bulungan, kreator tari jugit adalah pendekar sekaligus seniman istana saat itu.
Sama halnya dengan tari balet di istana Tsar Rusia maupun Kaisar Austria-Hongaria, para instruktur balet menjadikan seni tari ini menjadi orientasi hidup para balerina, artinya Balet bukan hanya sekedar seni tapi juga bagian penting dari hidup mereka. Cara yang sama sebenarnya mirip dengan apa yang terjadi diistana Bulungan, jangan kira para penari jugit dimasa itu adalah sebuah pekerjaan yang mudah, butuh pendalaman seni yang dalam tapi juga kerja keras yang tinggi.
Para balerina diasuh, didik dan dilatih sejak belia oleh para instruktur mereka, tak beda jauh dengan para penari jugit, hanya mereka yang benar-benar lulus seleksi yang akan menjadi penari jugit.
Untuk menjadi seorang penari jugit, dibutuhnya persyaratan yang tidak ringan, salah satu yang paling penting adalah calon penari tak punya ikatan politik, artinya keluarganya bukanlah orang yang memiliki akses ke istana raja maupun orang-orang menjadi tokoh penting dilingkungan kesultanan seperti tokoh agama maupun tokoh adat.
Umumnya para instruktur akan mencari seorang gadis Bulungan yang cantik, berambut panjang terurai, tubuh dan mental yang sehat, setelah itu para calon penari bisa diboyong ke istana untuk didik setelah mendapat persetujuan orang tua atau wali dari si gadis.
Kehidupan para penari tentu saja akan berubah setelah meraka masuk dan menjadi bagian istana kesultanan Bulungan, demikian juga keluarga mereka, ini tak lain penari jugit adalah salah satu status tertinggi yang dimiliki oleh gadis Bulungan selain bangsawan dan tokoh agama di Bulungan. Para penari mendapat perhatian penuh dari Sultan bahkan kabarya saat mereka menikah -juga keperluan lainnya selama aktif sebagai seniman istana-, biayanya di tanggung oleh istana.
Tahap-tahap pelatihan penari jugit.
Dalam seni tari jugit, penari setidaknya menguasai olah seni dan olah tubuh, olah seni mengacu kepada kemampuan sang penari dalam menguasai tiap jengkal tari jugit, mampu membedakan bagaimana gerak tari jugit paman atau demaring dan mampu menyuguhkan etika seni yang santun.
Kemudian ada juga yang disebut oleh tubuh, yaitu kemampuan mengolah tubuh khususnya untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan kemampuan dan stamina sang penari saat pementasan, sebab tari ini adalah tari istana, durasinya bisa tidak pendek.
Ada beberapa tahapan yang harus dijalani dalam latihan yang tidak ringan itu, menurut ibu Qamariyah, salah seorang instruktur tari daerah Bulungan yang juga putri dari seniman legendaris Bulungan Alm. Datuk Aziz Saleh Mansyur, menuturkan pada penulis bagaimana cara-cara pendidikan dan pelatihan tari jugit yang berdisiplin tinggi itu.
Konon pagi sebelum azan sholat subuh dikumandangkan, mereka sudah bangun untuk ritual mandi, itupun tak langsung mandi seperti orang kebanyakan, -pakaian para penaripun sangat tertutup, umumnya saat menjadi penari mereka akan memiliki dua orang pengawal dan seorang instruktur tari di istana-, mereka akan mengalami proses pelemparan atau dalam istilahnya “di timbai” dengan posisi punggung yang jatuh dahulu di air sungai, ini berlangsung tidak satu dua kali untuk meleturkan bagian tubuh tersebut, dan hal ini hanya dilakukan orang-orang yang khusus dan terlatih, jadi tidak sembarangan.
Menurut kisah yang dituturkan, untuk menjaga keamanan para penari saat mandi, dahulu dibuatlah semacam pagar yang rapat berukuran besar yang terbuat dari kayu laut, ini dimaksud untuk melindungi si penari dari ancaman buaya dan sebagainya, sayangnya baik penulis dan narasumber tidak mengetahui lebih jauh apa yang dimaksud dengan kayu laut oleh para tetua dulu.
Proses lain akan dilanjutkan lagi setelah mandi adalah senam yang melatih fisik, ada beberapa tahapan yang dijalankan:
Pertama: Paha dimasukkan kebawah tangga, duduk katak badan ditarik dari belakang selama beberapa menit dilakukan berulang-ulang oleh pengawal. Tentu saja tangga yang dimaksud memang khusus dibuat untuk keperluan tersebut.
Kedua: Badan atau punggung diikat ditiang rumah dengan selendang setelah itu badan ditarik kebelakang selama beberapa menit dilakukan berulang-ulang oleh pengawal. Tiang-tiang ini memang khusus dimiliki perorang / perpenari, di dalam keraton, tempat dimana mereka dilatih dan didik sejak awal mereka sudah memiliki tiang-tiang latihan tersebut.
Ketiga: Kedua jari tangan dimasukkan (digenggam), siku tangan dimasukkan antara 2 lutut lalu dirapatkan oleh si pengawal.
Keempat: Jari tangan direndam di air hangat selama beberapa menit lalu dilentingkan oleh sipengawal. proses ini dimaksud memudahkan gerak tangan sipenari saat pergelaran, ini tak lain karena gerak tangan erat kaitannnya dengan tarian jugit baik Jugit Paman maupun Jugit Demaring.
sumber lain menyebutkan bahwa Badan si penari diguling didalam tilam lalu digulingkan di anak tangga oleh sipengawal berulan-ulang. Hal ini dilakukan di pagi hari, berguna supaya badan penari tidak kaku dan mudah dalam mempelajari gerakan jugit.
Demikian rangkaian senam yang dilakukan saban pagi oleh penari jugit, setelah itu mereka bisa beraktivitas normal seperti shalat subuh dan sebagainya, menariknya tidak ditemukan dalam catatan sejarah maupun kisah-kisah yang menyebutkan pelatihan ini menyebabkan cacat ataupun luka-luka serius, hal ini tidak lain karena program pelatihan para penari ini telah diperhitungkan dengan matang dan dilakukan oleh instruktur dan pengawal yang profesional di bidangnya, hukuman yang berat bisa dijatuhkan pada para pengawal dan instruktur tari bila terjadi kelalain, sebab para penari ini langsung dibawah perlindungan Sultan Bulungan.
Lalu bagaimana dengan hikayat mengenai tubuh penari jugit yang konon sangat langsing namun berisi itu? penelusuran saya serta beberapa catatan tertulis mengenai hal tersebut membuat saya terkejut sekaligus rasa takjub, bagaimana tidak untuk menjaga proposi tubuh mereka menjalani semacam diet yang ketat.
Menurut kisah yang saya ketahui, diet ketat ini terlihat dari alat-alat makan yang digunakan, misalnya makan seujung sendok nasi, dan minum setakaran telur ayam, maksudnya alat makan yang digunakan dengan takaran seperti itu, tentu saja boleh menambah namun dengan alat makan yang disediakan, makanan ini dipadukan dengan buah-buahan segar dan susu, sehingga kesehatan dan proporsi tubuhnya terjaga.
Pada siang hari para penari beristirahat dikamarnya masing-masing, mereka duduk diatas semacam tempat khusus atau tikar selain di tilam mereka yang di taruh semacam pelebah kelapa, dalam kondisi seperti ini mereka dianjurkan untuk tidak tidur siang berlebihan, sebagai gantinya mereka melakukan perawatan tubuh dengan berlulur khas Bulungan yang disebut “Bekasai”.
Epilog.
Tari Jugit sebagai bagian dari maha karya seni Bulungan bukan tak pernah memasuki masa yang suram, jatuhnya istana Bulungan tahun 1964 juga di ikuti kajatuhan seni istana, yang paling terkena imbasnya tentu adalah tari jugit, ini tak lain karena jenis tari ini hanya boleh digelar di istana Bulungan dan dilakukan oleh gadis Bulungan diluar kasta bangsawan, namun instrukturnya hanya boleh melatih atas sepengetahuan sultan, dalam hal ini orang Bulungan menjaga betul hal tersebut.
Disisi lain timbul juga ketakutan, ada anggapan bahwa jika ada yang mencoba menarikan tari jugit sama artinya mencoba menghidupkan lagi kenagan lama kesultanan Bulungan yang pada imbasnya akan juga terkenang kejadian yang tidak menyenagkan pada tahun 1960-an itu. Wajar saja timbul kekhawatiran saat itu tari jugit ini akan musnah.
Namun bupati Bulungan yang berpikiran terbuka seperti Kol Soetadji, Yusuf Dali dan juga di ikuti oleh R.A Besing, mencoba membuka kekakuan tersebut dengan menggelar Birau (pesta rakyat) yang juga diikuti oleh pegelaran seni tari Bulungan seperti tari jugit. Usaha ini mendapat tanggapan positif dari masyarakat Bulungan, selain itu tak dapat di tampikkan juga ada usaha dan kesadaran tokoh-tokoh masyarakat dan seniman Bulungan agar tari jugit ini tetap lestari.
Sejak itu tari jugit kembali digelar di sanggar-sanggar tari maupun sekolah, ini tentu positif walaupun tidak lagi menjalani pelatihan seperti dulu. Saya harap kedepannya tari ini tetap lestari, dikenang dan dikembangkan oleh segenap masyarakat Bulungan hari ini hingga yang akan datang.
tulisan ini tentu jauh dari kesempurnaan, kritik dan saran sangat dibutuhkan. Demikian sedikit ulasan saya mengenai hikayat penari jugit, semoga tulisan kecil ini bisa bermanfaat. Amin.
Sumber:
Wawancara Ibu Iyay (Qamariyah), pada tanggal September 19, 2010, 3:23:00 AM. Pengajar tari tradisional Bulungan.
http://muhzarkasy-bulungan.blogspot.com/2010/11/ragam-seni-tari-tradisional-bulungan.html
http://amaliayoshiokachangmi.blogspot.com/2011/05/jugit-keraton.html
blog ini dibuat, sebagai media menggali nilai-nilai sejarah dan budaya Bulungan...
Entri Populer
-
Sejarah terbentuknya sebuah Masyarakat di Kalimantan timur, Khususnya Bulungan tidak lepas dari cerita Legenda asal-usul keberadaan mereka. ...
-
Ada sebuah pepatah yang pernah penulis kenal, “sejarah tidak selalu memihak pada subjeknya”, begitulah yang bisa kita gambarkan mengenai sos...
-
Diantara upacara siklus hidup, upacara perkawinanlah yang paling menjadi ciri khas yang menjadi masterpiece atau maha karya yang membedakan ...
-
Seni tari dalam kehidupan masyarakat kesultanan tempo dulu, setidaknya ada dua yaitu tari kraton dan tari rakyat. salah satu kreasi penting ...
-
(Sepasang Naga yang dimanifestasikan dalam bentuk ukiran tradisional Tidung) Beberapa waktu yang lalu, saya membaca sebuah situs mengenai Na...
-
(Sultan Kaharuddin II, berkuasa antara 1875 hingga 1889) Dalam keadaan berkabung, Dewan Kesultanan akhirnya mengangkat cucu Sultan Khalifatu...
-
(Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin, Kepala Istimewa Daerah Bulungan yang pertama sekaligus yang terakhir) Bicara tentang sejarah lawas m...
-
Tidak banyak yang mengetahui bahwa pada bulan oktober 1947, terjadi peristiwa penting yang turut pula mewarnai sejarah Kesultanan Bulungan, ...
-
(Museum Kesultanan Bulungan) Bicara tentang Bulungan, menurut saya tentunya juga tidak lepas dengan sejarah dan budayanya. ngomong-ngomong s...
-
Seni tari telah menjadi bagian penting dalam budaya Bulungan, bahkan dapat dikatakan seni tari merupakan seni yang paling banyak mengekspres...
Tampilkan postingan dengan label Budaya Bulungan.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya Bulungan.. Tampilkan semua postingan
Minggu, 11 Desember 2011
Rabu, 12 Januari 2011
Arsitektur dan ukiran Suku Bulungan

(Museum Kesultanan Bulungan)
Bicara tentang Bulungan, menurut saya tentunya juga tidak lepas dengan sejarah dan budayanya. ngomong-ngomong soal budaya Bulungan, khususnya kebudayaan suku bulungan, sebagai pemerhati, walaupun bukan terlahir sebagai laki-laki berdarah suku asli Bulungan, sejujurnya saya khawatir dengan kondisi yang ada pada saat ini, bisa dikatakan kebudayaan bulungan sedang dalam kondisi yang cukup memprihatinkan, dan tidak menutup kemungkinan dua generasi setelah kita akan masuk dalam "black age" tentang informasi kebudayaan Bulungan, khususnya tentang "arsitektur dasar rumah Bulungan dan ukirannya" ya mungkin ada teman-teman ada yang tidak setuju dengan pendapat saya, tapi kalo kita mencoba berfikir jernih kita akan akan menemukan kekhawatiran yang sama.
(bentuk ukiran Bulungan yang terdapat di rumah tradisional Bulungan, Tanjung Palas)
cukup lama juga saya menjadi pemerhati sejarah dan budaya bulungan, khususnya mengenai rumah tradisional dan ukiran bulungan di Tanjung Palas, sayangnya harus kita akui hanya ada beberapa situs saja yang masih orisinil yang bisa ditemui dan itupun bisa di hitung jari.
Dari beberapa yang ada , beberapa yang menurut saya benar-benar mewakili "wajah" arsitektur Bulungan yang sebenarnya yaitu mesjid Jami' Kasimuddin, Rumah tradisional bulungan yang saat ini ditempati oleh Datuk Krama sekeluarga, dan satu buah rumah yang dulunya digunakan sebagai tempat penyambutan tamu zaman kesultanan tempu dulu, dua yang terakhir ini nasibnya kurang beruntung karena kurang mendapat perhatian serius dari PEMDA Bulungan, padahal dari dua situs akhir ini, punya nilai sejarah yang sangat tinggi.
(ukiran bulungan, karya haji Muhammad Thoib)
Minimal ada usaha untuk mendokumentasikan arsitektur rumah-rumah tersebut, begitu pula situs lainnya, agar anak-anak bulungan memahami keberadaannya sebagai hasil kebudayaan asli bulungan, di banjarmasin, dulunya ikatan arsitek muda KAL-SEL sekitar tahun 70/80-an pernah melakukan penelitian dan berhasil melakukan dokumentasi 8 bentuk rumah adat Banjar seperti, Bubungan Tinggi, Gajah Beliku, Gajah Menyusu,Palimbangan, dll yang kemudian menjadi dasar pemerintah KAL-SEL melakukan ketentuan bahwa "setiap kantor pemerintah Prov dan daerah harus mengacu pada arsitektur adat Banjar", dari hal terkecil ini, dari sebuah buku, karena kecintaan mereka terhadap warisan budayanya yang hampir saja tenggelam, mereka berhasil mempertahankan warisan asli arsitektur banjar, itu bisa dilihat di Kantor Dewan KAL-SEL, Rumah sakit ulin, gedung Suriyansyah dll. pertanyaannya bagaimana dengan bulungan?
(versi lain dari ukiran bulungan, karya Datu Aziz Saleh Mansyur, DASMAN)
Sekedar saran buat pemerintah sekalian anggota dewan, juga temen2, kalo bisa ada semacam ketentuan daerah yang menegaskan bahwa bangunan-bangunan penting pemerintahan untuk mengadopsi arsitektur dan ukiran bulungan, minimal pada wilyah inti budayaan bulungan di Tanjung Palas. paling tidak kita bisa menjaga warisan budaya jangan sampai punah.
oya satu lagi, kalo berbicara tentang arsitektur, kita juga berbicara tentang ukiran bulungan, orang-orang bulungan sejak ratusan tahun lalu sudah mengembangkan model arsitektur yang berbeda dari "sepupu jauh" mereka yaitu orang Kayan, Kenyah dan Tidung. pola dan corak pada ukiran bulungan sangat khas dan orisnil karya ulun Bulungan.
ada yang mengatakan pola ukiran bulungan sangat kental dengan nuansa islam, karena merupakan bagian dari pengembangan ukiran Brunai yang dibawa oleh Datuk Mancang ratusan tahun silam, sayangnya sejauh ini saya belum dapat memastikan 100 % asumsi tersebut
lepas dari itu, saya hanya ingin memberi saran, kawan-kawan khususnya untuk anak-anak bulungan , sejak dinilah penggalian warisan budaya di galakkan jangan sampai hilang dimakan waktu. patut disayangkan jikalau warisan budaya bulungan ya terutama arsitektur dan ukirannya tidak kita kenal, memang tidak mudah apa lagi Maestro ukirnya sudah banyak yang meninggal dan tidak banyak banyak generasi beliau yang melanjutkan, kenapa kita tak mulai dari sekarang, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.
Selasa, 30 November 2010
Ragam Seni Tari Tradisional Bulungan

Seni tari telah menjadi bagian penting dalam budaya Bulungan, bahkan dapat dikatakan seni tari merupakan seni yang paling banyak mengekspresikan kelembutan dan ketinggian budaya Kesultanan dan Masyarakat Bulungan tempo dulu. Maka tidaklah heran seni tari tradisional Bulungan memang memiliki banyak ragamnya.
Secara garis besar tari tradisional dibedakan menjadi dua jenis yaitu Tari Istana dan Tari Rakyat. Tari Istana diwakili oleh tari Jugit, yaitu Jugit Paman dan Jugit Demaring , kedunya merupakan tari istana yang sakral walaupun sekilas nampaknya memiliki kesamaan, namun sebenarnya kedua tari itu memiliki perbedaan yang amat kompleks dari segi alat musik dan syair lagu, warna baju dan kain yang digunakan, gerak tangan saat memegang kipas dan selendang, serta peruntukannya untuk apa dan siapa tari itu disuguhkan. Dimasa lampau saking sakralnya tarian ini, tari Jugit Paman hanya boleh disuguhkan kepada Sultan dan di tarikan didalam kraton sedangkan tari Jugit Demaring dapat disaksikan oleh rakyat biasa dan boleh disuguhkan diluar kraton.
Selanjutnya adalah tarian tradisional masyarakat diantaranya ada tari Blunde’ atau Blundik, kemudian tari Mance atau Bemance’ dan tari Bagun. Blunde’ atau blundik merupakan tari tradisional bulungan yang sudah hampir jarang sekali ditemukan konon bentuk tari ini hampir sama dengan tari enggang dari suku Dayak, tidak menggunakan bulu enggang seperti umumnya melainkan hanya menggunakan tangan biasa dan kostumnya yang paling khas adalah ikat kepala, baju kebaya dan tapih (kain) yang digunakan hingga menutup lutut. Tari ini konon diciptakan oleh Datuk Perdana dan syairnya menggunakan bahasa Kayan Pimping, barulah kemudian syairnya diciptakan ulang dalam bahasa melayu oleh Datuk Abdul Aziz yang berjudul “Pinang Sendawar”.
Tari Mance atau Bemance, disebut juga tari silat, geraknya hampir sama dengan bentuk silat pada umumnya namun lebih luwes dan lebih berupa tarian yang disuguhkan sebagai bentuk hiburan, dimasa lampau Bemance merupakan kegemaran sebagaian besar pemuda bulungan.
Kemudian ada juga yang disebut tari Bangun, tari ini merupakan tari magis dan sakral dan tujuannya untuk memanggil kekuatan alam sebagai media penyembuhan, biasanya diperuntukan untuk mengobati orang-orang sakit dimasa lampau, walaupun saat ini masih sering dimainkan, sifatnya sudah bergeser menjadi bagian dari seni tari murni walaupun nuansa magis dan sakral tetap bisa dirasakan. Tari Bangun memiliki setidaknya tiga bantuk yaitu: Ngala Bedua’ (dimaksud untuk mengambil semangat si sakit), Betujul (memberi makan sesuatu yang gaib) dan yang terakhir Persembahan.
Selain bentuk tari tradisional seperti yang penulis sebutkan di atas, masih ada lagi tari yang populer dikalangan masyarakat Bulungan yaitu tari Zapin atau Jepen dalam dialek masyarakat Bulungan, tari Jepen Bulungan lahir dari proses yang panjang dari interaksi agama Islam dengan penduduk suku Bulungan. Jepan yang dimiliki masyarakat Bulungan murni kreasi para seniman sekaligus para pendawah dimasa lampau, Jepen ini menjadi sangat special karena sering muncul atau dimainkan dalam setiap hajat masyarakat khususnya pesta rakyat atau acara perkawinan, bila tak ada Jepen rasa tak lengkaplah acara tersebut, begitulah istilah orang Bulungan menyebutnya. Jepen Bulungan memiliki empat variasi bentuk yaitu: Jepen Serimpot, Jepen Surung Dayung, Jepan Ketemu dan yang terakhir Jepan Sirung (Sorong).
Demikianlah sekilas mengenai seni tari dan ragamnya, semoga tulisan ini dapat berguna untuk kita pada umumnya dan khususnya untuk mereka yang menggali seni Budaya Bulungan.
Sumber: Wawancara pada tanggal September 19, 2010, 3:23:00 AM. dengan pengajar tari tradisional Bulungan, Ibu Iyay (Qamariyah), yang merupakan putri dari Datuk Aziz Saleh Masyur (DASMAN) salah seorang seniman multy talent yang pernah dimiliki oleh Kabupaten Bulungan.
Senin, 27 September 2010
Tari Jugit: Kreasi Agung seniman Bulungan.

Seni tari dalam kehidupan masyarakat kesultanan tempo dulu, setidaknya ada dua yaitu tari kraton dan tari rakyat. salah satu kreasi penting seniman bulungan yang tetap lestari adalah tari Jugit. Harus saya akui kawan, saya tidak bisa menyembunyikan kekaguman saya pada seni tari bulungan yang satu ini, nah begini hikayatnya….
Menurut legenda, tari jugit ini diciptakan oleh dua orang seniman sekaligus laksamana kesultanan Bulungan yaitu Datuk Maulana dan Datuk Mahubut. Jadi bisa dibayangkan umur tarian ini sudah begitu tua, bisa jadi sekitar paruh kedua abad ke-18 Masehi tari ini sudah menemukan bentuknya seperti yang dikenal saat ini.

Umumnya orang hanya mengenal tari jugit hanya satu variasi bentuk, sebenarnya tidak, tari Jugit kreasi agung orang Bulungan ini mempunyai dua bentuk yang memang mirip tapi memiliki perbedaan yang sangat kompleks. Tari pertama disebut Tari Jugit Paman dan yang kedua di sebut Tari Jugit Demaring.
Walaupun memiliki kemiripan, tari ini memiliki perbedaan dari bentuk gerak tangan, warna baju, syair lagu, tempo gerakan, serta peruntukan untuk apa dan siapa tarian ini dipersembahkan.
Dimasa lalu, Tari ini begitu sakral, Tari jugit Paman hanya di peruntukan untuk raja, artinya tarian ini tidak akan pernah dapat dilihat di luar Istana, dan memang itulah aturannya, berbeda dengan tari jugit Demaring, walaupun milik kraton, namun ia boleh di persembahkan di luar Istana, karena itu biasanya dalam setiap penyambutan tamu diluar istana, misalnya di dermaga istana atau dalam Biduk Bebandung atau kapal layar Kesultanan, tari Jugitlah demaring yang dipersembahkan. sedikit catatan penari jugit, khususnya penari jugit demaring, untuk sampai ke tempat dia menari, penari itu akan di gendong dan memang seperti itulah adatnya.

Dari segi warna baju, keduanya memiliki perbedaan pula, dalam tarian Jugit Paman, penari harus menggunakan kombinasi warna merah di atas dan kuning di bawah, jadi jika dalam sebuah tari jugit, warna bajunya seperti diatas bisa dipastikan ia menarikan tarian Jugit paman. Sebaliknya penari Jugit Demaring menggunakan kombinasi baju kuning di atas dan hijau di bawah.
Gerak tangan dan kecepatannyapun berbeda, dalam Tari Jugit Paman biasanya tempo atau gerakan cenderung lebih cepat, sedang dalam tarian Jugit Demaring lebih lambat geraknya.
Bentuk gerakpun memiliki keunikan juga, memang kedua garik kaki kedua tarian ini hampi mirip, tapi gerak tangannya yang berbeda, dalam tarian jugit Paman, gerak tangan sebatas bahu, sedangkan pada jugit Demaring gerak tangan sebatas dada, Tangan kanan memegang kipas dan tangan kiri memegang selendang. Dalam Jugit paman tangan kiri tidak bergerak apa bila jatuh kebelakang, sedangkan pada Jugit Demaring tetap bergerak apa bila jatuh kesamping.
Pada tari jugit Demaring ada gerakan yang di sebut “Ayu Ane” atau menggendong anak, gerak ini tidak terdapat dalam jugit paman. Posisi tangan “Ayu Ane” kipasnya di kuncup kemudian, tangan kanan yang memegang kipas diletakan tangan kiri seperti posisi menggendong anak.

Syair lagu kedua tarian ini berbeda pula, dalam tarian jugit Paman hanya punya satu Syair yaitu Gandang Lais dan alat musiknya hanya kelantang atau kolintang dan itupun hanya tiga anak kolintang diman kan dua orang yaitu satu untuk bas dan yang lain memainkan dua anak kolintang lainnya. pada tari jugit Demaring ada dua Syair lagunya yaitu Kalau yang artinya Sore dan Jumalom atau jauh malam, dalam jumalom inilah ada potongan syair “Ayu Ane” tersebut, dalam Jugit demaring alat musiknya beragam, pada perkembangannya bukan hanya kelantang atau kolintang namun juga bisa menggunakan rebana dan biola khususnya pada syair lagu jumalom. sedikit catatan, dimasa lalu baik penyanyi syair dalam Jugit paman dan demaring, jumlahnya paling sedikit empat orang jika banyak bisa sepuluh orang karena lagu itu tidak boleh putus, dan sipenari mengikuti isyarat gerak dari syair tersebut, karena itu baik si penari maupun si penyanyi harus hapal mati dengan isi syair lagu tersebut.
Inilah sekelumit pengentar studi awal mengenai tari Jugit, tentunya tidak lepas dari kekurangan, peran serta budayawan, penikmat seni Bulungan dan seniman Bulungan akan membantu untuk mengekspose lebih dalam lagi mengenai karya seni budaya bulungan yang kita cintai ini.
Sumber:
Wawancara pada tanggal September 19, 2010, 3:23:00 AM. dengan pengajar tari tradisional Bulungan, Ibu Iyay (Qamariyah), yang merupakan putri dari Datuk Aziz Saleh Masyur (DASMAN) salah seorang seniman multy talent yang pernah dimiliki oleh Kabupaten Bulungan.
Minggu, 19 September 2010
Seni membaca tanda-tanda alam; tradisi kuno orang Bulungan.

(ilustrasi suku kayan Uma Apan)
Sebelum kedatangan Islam di Bulungan, suku kayan Uma Apan, salah satu unsur cikal bakal dari suku Bulungan, memiliki kepercayaan tersendiri yang erat dengan pemujaan arwah nenek moyang mereka. Mereka inilah yang kemudian juga menurunkan kepercayaan tentang tanda-tanda alam kepada orang Bulungan.
Penulis berkesimpulan secara umum kepercayaan pra islam oleh suku Bulungan (Uma Apan pada masa lalu) tersebut dibagi dalam beberapa bentuk, dan sampai saat ini tidak sedikit bentuk-bentuk kepercayaan tersebut ada yang melekat menjadi tradisi yang merupakan bentuk ke arifan lokal suku bulungan antara mereka dan alam sekitar dimana mereka tinggali. Kepercayaan pra islam yang dapat penulis simpulkan pada masa itu adalah sebagai berikut:
1). Kepercayaan terhadap arwah nenek moyang (arwah leluhur).
2). Kepercayaan terhadap kekuatan gaib dalam benda-benda tertentu.
3). Kepercayaan terhadap tanda-tanda alam.
Para ahli ilmu kebudayaan (Antropolog) seperti E. B. Tylor berpendapat kepercayaan seperti itu dinamakan animisme, berasal dari kata Anima yang berarti Soul atau jiwa, karena itu menurut beliau setelah manusia meninggal jasmaninya dan selanjutnya bisa berpindah dan menempati mahluk-mahluk hidup dan benda-benda material, karena itu, agar roh tersebut tidak mengganggu maka perlu diadakan penghormatan (pemujaan) pada arwah para leluhur atau benda-benda yang memiliki kekuatan gaib. Mereka juga mempercayai arwah nenek moyang mereka merupakan pelindung bagi mereka terhadap serangan musuh maupun memberikan kesuburan tanah dan ketentraman bagi penduduk desa.
Lebih jauh, selain animisme, ada pula yang dikenal dengan nama Dinamisme yaitu kepercayaan tentang kekuatan roh (soul), jiwa atau semangat (spirit) yang mendiami benda-benda tertentu seperti pohon, parang, tombak, guji dan lain sebagainya.

(ilustrasi burung isit)
Sama halnya dengan kepercayaan terhadap arwah nenek moyang dan benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan gaib, mereka juga mempercayai tentang baik-buruknya sesuatu melalui tanda-tanda alam. Mereka mempercayai bahwa jika arwah leluhur mereka “menitipkan” pesan lewat tanda-tanda atau tingkah laku penghuni hutan yang mereka temui. Misalnya jika saat dalam perjalanan ada burung Isit terbang atau ular yang melintas dari kanan ke arah kiri, berarti pertanda ada hal buruk sehingga rute perjalanan di rubah. Begitupula jika mendengar leguhan rusa sambar (sejenis rusa hutan yang bobot badannya bisa mencapai dua Kwintal) pada saat mereka mencari lokasi mendirikan pemukiman, itu artinya mereka sebaiknya menjauh dari lokasi tersebut dan mencari lokasi pemukiman lainnnya.
Membaca tanda-tanda alam, seperti yang dilakukan oleh moyang orang bulungan seperti itu, juga telah lama digunakan oleh bangsa-bangsa kuno lainnya, bangsa Romawi misalnya. Dalam tradisi romawi kuno, membaca tanda-tanda lama tersebut di bebankan kepada para pemuka agama yang dinamakan “Augur”, para Augur bergabung dalam sebuah badan yangh dinamakan “Collegium”.
Tugas para Augur mencari dan mencatat tanda-tanda alam seperti tanda-tanda yang diberikan burung yang dianggap suci oleh mereka, serta mencatat tempat suci dimana tanda itu terlihat kemudian menafsirkannya. Khusus mengenai pedoman teknis dilapangan, mereka memiliki kumpulan buku acuan yang dinamakan “Libri Augurales”.

(ilustrasi seorang Augur)
Tidak hanya itu, dalam satuan Augur, ada yang disebut “Auspicia”, yang artinya penyelidik burung, para Auspicia memperhatikan tanda-tanda bukan untuk mendapatkan jawaban atas kejadian dimasa depan, tapi apakah perbuatan tersebut direstui atau tidak oleh dewa mereka, perlu diingat sama halnya dengan moyang orang Bulungan yang percaya bahwa para roh leluhur mereka menitipkan pesan melalui tanda-tanda alam, bangsa romawi kunopun percaya bahwa pesan-pesan tersebut disampaikan oleh Dewa Jupiter melalui tanda-tanda alam juga.
Jadi walaupun setiap orang pada masa itu boleh menafsirkan tanda-tanda alam menurut pandangan mereka dan untuk keperluan mereka sendiri, namun jika berhubungan dengan negara khususnya pada tanda-tanda yang diberikan oleh burung, maka hanya badan khusus yang disebut “Auspicia Publica Populi Romani’” yang boleh menafsirkan tanda-tanda burung tersebut secara resmi, dan badan khusus ini berada di bawah tanggung jawab Augur.
Tanda-tanda alam menurut bentuknya oleh bangsa romawi lebih kompleks lagi, setidaknya ia dibagi lima macam yaitu:
1). Tanda-tanda yang diberikan oleh burung (signa ex avibus). Dalam hal ini hanya Auspicia yang dipercayai untuk menafsirkannya.
2) . Tanda langit (signa ex caelo), yang dikaji khususnya pergerakan kilat atau guntur, kilat yang dianggap baik apa bila nampak disebelah kira Augur dan berjalan kearah kanan, dan tidak baik kalau sebaliknya.
3). Tanda yang terlihat dalam gerak-gerik anak ayam apbila makan. Dianggap sebagai tanda baik kalau anak ayam itu berlarian u7ntuk makan dengan lahap bahkan sapai berceceran, tapi kalu nafsu makannya tidak terlihat saat makan, maka dianggap pertanda buruk. Pertanda macam ini konon digunakan saat tentara sedang pergi berperang, biasanya anak ayam itu khusus dibawa dan dirawat oleh petugas yang khusus juga namanya “Pullarisius”.
4). Tanda-tanda yang diberikan apabila binatang bersuara atau bergerak, seperti hewan berkaki empat atau ular yang bergerak ditanah.
5). Tanda yang diberikan oleh gejala yang menakutkan, seperti apa bila ada barang yang jatuh, suara yang tiba-tiba terdengar atau orang tergelincir dan sebagainya.
Sama halnya dengan para Augur dan Auspicia yang hilang ditelan zaman, tradisi membaca tanda-tanda alam dikalangan orang Bulungan ini lama-lama sudah tidak lagi terdengar atau dipercayai lagi.
Sumber:
Prof. DR. Ahmad M. Sewang, M.A “Islamisasi Kerajaan Gowa (Abad XVI sampai Abad XVII).
Iskandar Zulkarnaen, Datuk. 2008. “Hikayat Datoe Lancang dan Putri Kayan”. Cet-1. Samarinda : Pustaka Spirit.
Soetomo Mangoen Rahardjo. 1976. “ Ikhtisar pokok dan tokoh Mitologi Yunani-Romawi”, Bandung: PT. Terate.
Sabtu, 19 Juni 2010
ADAT PERNIKAHAN ORANG BULUNGAN.
Diantara upacara siklus hidup, upacara perkawinanlah yang paling menjadi ciri khas yang menjadi masterpiece atau maha karya yang membedakan orang Bulungan dan suku bangsa lainnya di kabupaten Bulungan ini.
Pernikahan dalam tradisi Bulungan memang sangat unik, tata cara pernikahan ini melewati setidaknya melewati beberapa tahap.
Proses awal adalah lamaran dan jujuran, dalam bahasa Bulungan disebut dengan Beseruan Mengka Ngantot Sangot, proses awal dari perkawinan adat Bulungan diawali dengan cara melamar dari pihak keluarga laki-laki serta mengatar jujuran disebut dengan Antot Sangot. Dalam acara ini, pihak keluarga laki-laki melakukan pembicaraan dengan pihak keluarga perempuan untuk melakukan peminangan atau dalam bahasa Bulungannya Lungkap Beba atau Beseruan.
Bila pinangan di terima, dan masing-masing pihak keluarga sepakat maka dari pihak keluarga laki-laki menyerahkan sebuah benda berupa meriam kecil yang dinamakan Rentaka. Dimasa lampau jika pihak lelaki adalah anak Sultan, maka jujurannya atau Sangotnya ditambah sebesar 2000 ringgit. Jika sekarang tentunya menggunakan uang Rupiah yang besarnya sesuai kesepakatan keduabelah pihak.
Mengantar jujuran atau Ngantot Sangot dalam adat Bulungan ada tata caranya tersendiri. Setelah peminangan selesai tibalah acara mengantar jujuran tersebut pihak keluarga perempuan menyiapkan potongan balok ulin yang akan dipergunakan untuk melakukan pengujian bahwa jujuran berupa uang ringgit yang diserahkan benar-benar asli. Bila seandainya uang ringgit tersebut palsu, maka kepada pihak lelaki diharuskan menggantinya dengan yang asli.
Selanjutnya setelah tiga hari dilaksanakannya antar jujuran tersebut, calon pengantin pria dibawa kerumah calon pengantin wanita guna mengadakan silaturahmi. Acara ini dimaksudkan untuk saling kenal mengenal antar calon pengantin, dimasa perkenalan ini pengantin pria hanya boleh melihat dengan mencuri-curi pandang saja, tidak bisa bertatap muka secara langsung.
Dimasa lampau perempuan Bulungan yang akan dipinang tidak diperbolehkan keluar rumah, dalam istilah adat Bulungan disebut dengan kenurung atau berdiam diri didalam rumah.
Masa perkenalan calon pengantin pria dan perempuan ini berlangsung antar 7 hingga 9 hari atau bisa lebih. Dalam masa perkenalan ini, masing-masing calon penganting memberi tanda mata berupa cincin sebagai tanda bukti telah melakukan pertemuan.
Setelah acara perkenalan calon pengantin, maka tahap selanjutnya adalah persiapan akad nikah, dimana calon pengantin pria dibawa kerumah pengantin wanita guna dilaksanakan akad nikah tanda resmi sebagai pengantin. Setelah akad nikah selesai, pengantin pria boleh tidur bersama, makan bersama, namun perempuannya masih tetap berkurung dalam sarung tanpa boleh diliat oleh pengantin pria. Pada saat menjelang tidur, pengantin ditemani oleh kedua keluarganya. Setelah acara kawin suruk selama tiga hari tiga malam dilaksanakan, maka pengantin pria kembali dibawa pulang untuk persiapan hari persandingannya.
Sebelum hari persandingan dilaksanakan, maka pada malam harinya dirumah pengantin pria dilaksanakan acara Bepupur atau pupuran yang diisi dengan hiburan musik gambus dan tari jepen. sedang dirumah pengantin wanita diadakan acara Bepacaran atau memakai inai dijari tangan dan kaki yang hanya dapat disaksikan oleh pihak pengantin wanita saja.
Dalam acara bepupur ini, dilakukan acara tukar menukar pupur dan pacar (Inai) antara pengantin pria dan pengantin wanita. Pada acara ini pihak keluarga pengantin pria mengantarkan pupur dan pacar kerumah pengantin wanita, dan pihak keluarga pengantin wanita menukarkan dengan pupur dan pacarnya. Pupur dan pacar tersebut dibawa dengan menggunakan talam yang dilapisi dengan kain kuning serta diterangi dengan lilin. Setelah acara tukar menukar pupur dan pacar, maka acara pupuran dilaksanakan dimana pengantin pria dipupuri secara bergantian oleh tujuh orang laki-laki dan tujuh orang perempuan yang dituakan.
Selesai acara bepupuran, selanjutnya pengantin pria diangkat kekamar secara beramai-ramai dengan menggunakan tikar pandan, kemudian para tamu dan undangan juga ikut bepupur satu sama lainnya.
Konon menurut cerita, bahwa para undangan dalam acara pupur-pupuran ini sengaja mencari anak gadis dan bujang dengan harapan sigadis atau bujang tersebut dapat lekas menyusul untuk melaksanakan pernikahannya.
Hari berikutnya setelah acara berpupur, maka acara selanjutnya adalah persiapan hari persandingan, dimana pada hari tersebut pengantin pria dibawa keluarganya ke tempat pengantin wanita. Disertai dengan membawa perlengkapan makanan yang dinamakan Seduleng serta perlengkapan pakaian perempuan yang disebut dengan Pesalin.
Pada acara peresmian perkawinan yakni tibanya hari persandingan, pengantin pria diantar oleh keluarga dan kerabatnya disertai pendamping yang berpakaian lengkap dengan membawa Seduleng dan Pesalin.
Tiba dirumah pengantin wanita Seduleng dan Pesalin yang dibawa oleh rombongan pengantin pria tersebut diserahkan kepada keluarga pengantin wanita yang sudah siap menerima dipintu masuk.
Acara selanjutnya sebelum masuk ke pelaminan terlebih dahulu pengantin pria diharuskan menginjak batu gosok serta menggigit pisau dan meminum air yang sudah disiapkan oleh pihak pengantin wanita. Hal ini dimaknai bahwa, pengantin pria setelah memasuki bahtera rumah tangga memiliki hati yang teguh dan tidak mudah goyah terhadap berbagai macam cobaan dan godaan.
Berikutnya sebelum duduk dikursi pelaminan masih ada satu tahap yang harus dilalui oleh pengantin pria yakni membuka tabir atau tirai kain penutup serta Dedap atau kain penutup wajah pengantin wanita. Untuk dapat membuka tabir atau tirai serta Dedap ini, maka pihak pengantin pria harus menyerahkan sejumlah uang yang diberikan pada Sina Pengantin atau Perias Pengantin, setelah itu barulah membuka tabir atau tirai serta Dedap bisa dibuka. Dan tahap selanjutnya adalah acara persandingan.
Setelah selesai acara persandingan, maka tiga hari berikutnya atau dalam istilah bahasa Bulungan, Genop Telu Malom, pihak pengantin pria menyerahkan salah seorang dipon atau hamba sahaya, dapat pula diartikan sebagai pembantu kepada pihak pengantin wanita dalam bahasa Bulungan disebut Buka Seluar. Bila tidak ada bisa diganti dengan uang sebesar 250 ringgit.
kemudian setelah acara penyerahan dipon atau hamba sahaya tadi barulah kedua pengantin naik keatas pelaminan, sambil dinyanyikan lagu-lagu Sulai Mambeng, Dindeng Sayeng, dan Sayeng Tuan yang dibawakan oleh para orang tua. tembang ini dinyanyian hingga sampai menjelang subuh.
Tahap Selanjutnya dari prosesi perkawinan adat Bulungan ini adalah membangunkan pengantin, dalam bahasa Bulungannya adalah Metun Pengantin dengan cara membunyikan alat musik tradisional berupa gendang rebana. Setelah pengantin dibangunkan, maka tahap berikutnya adalah mandi pengantin. Dalam bahasa Bulungan mandi disebut Mendus.
Pada acara mandi pengantin ini pasangan pengantin didudukan diatas persada atau tangga tujuh tingkat. Sebelum acara mandi-mandian dilaksanakan masing-masing pengantin diangkut, pengantin wanita digendong, dalam bahasa Bulungan disebut Tenanggung. Sedangkan pengantin pria diangkut dengan kursi. Sebelum duduk ditempat pemandian yang sudah disiapkan berupa baki atau talam yang dilapisi kain, pengantin wanitanya dibawa berkeliling mengitari tangga hingga pada tingkat yang paling atas. Barulah acara mandi pengantin dilaksanakan.
Air yang digunakan untuk mandi pengantin berasal dari kawasan Limbu atau Long Baju dengan menggunakan biduk bebandung, serta mereka yang mengambilnya diharuskan menggunakan pakaian pengantin. Air diambil sehari sebelum acara mandi pengantin dilaksanakan yang banyaknya dua kibut atau guci dan diletakan pada tingkat paling atas persada dilengkapi dengan bunga-bungaan.
Rangkaian akhir dari prosesi perkawinan adat Kesultanan Bulungan ini adalah bertamu kerumah mertua, dalam bahasa Bulungan dinamakan Nyengkiban. Acara ini dilaksanakan pada sore hari setelah acara mandi-mandian atau Mendus. Dalam acara nyengkiban ini kedua pengantin disertai keluarga pengantin wanita, dengan menggunakan kereta kencana diarak menuju rumah keluarga pengantin pria.
Sesampainya dirumah keluarga pengantin pria, dilaksanakan acara sembah sujud oleh kedua pengantin, setelah selesai acara sembah sujud tersebut, maka berakhirlah seluruh rangkaian acara prosesi perkawinan adat Bulungan yang sacral dan sarat nilai-nilai budaya tersebut. Selanjutnya seluruh keluarga saling bersilaturahmi.
Sebagai tambahan, pada masa lampau, jika Sultan Bulungan atau keluarga dekat yang melaksanakan hajat perkawinan, biasanya terlebih dahulu dilaksanakan acara pesta rakyat sebagai tanda syukur yang oleh masyarakat Bulungan disebut dengan Birau, acara ini dibuka dengan tembakan salvo dari Meriam Sebenua dengan tujuan seluruh isi kampong mengetahui bahwa ada pesta yang dilaksanakan oleh kerabat Sultan.
Jika kita mengkaji prosesi perkawinan adat Kesultanan Bulungan ini, tercermin nilai-nilai yang sarat makna, seperti nilai kejujuran, kesabaran, keberanian, kepatuhan terhadap nilai-nilai tradisi yang tidak lain bersandar dari perkawinan nilai-nilai adat dan agama yang diresapi oleh masyarakat Bulungan, inilah yang kemudian melahirkan tradisi adat perkawinan Kesultanan Bulungan yang sakral ini.
Sumber: Datuk Iskandar Zulkarnaen “Hikayat Datoe Lancang dan Putri Kayan”, (Samarinda: Pustaka Spirit, September 2008). hlm. 67-69.
Foto: Peta Ratna Pelaminan dari Museum Kesultanan Bulungan.
Selasa, 10 November 2009
NASIB SENIMAN BULUNGAN

"mati segan hidup tak mau", mungkin nampak itulah ungkapan kurang enak namun melekat bagi seniman-seniman bulungan saat ini.
sesungguhnya bulungan punya banyak Maestro Seni yang tak kalah seperti seniman lainnya, namun kretifitas mereka terhambat karena medianya memang tidak begitu memungkinkan, tengok saja seni ukir bulungan, bisa dikatakan sudah tidak banyak orang bulungan yang mewarisi khazanah seni bermutu tinggi ini, seharusnya bukan hanya seniman tapi pemerintah daerah juga harus berpartisifasi dalam menjaga dan melestarikan seni ukir bulungan ini.
banyak cara untuk melestarikan seni ukir bulungan setidaknya harus ada buku yang disusun secara mendalam tentang seni ukir bulungan, baik itu ragam, motif, makna filosofis dan lain sebagainya, begitu pula harus ada usaha serius melestarikan dan mengembankannya untuk industri kreatif. ini bukan hanya melibatkan para budayawan maupun para seniman bulungan namun juga PEMDA Kab Bulungan, agar seni budaya kita tidak hilang dimakan masa.
note:
lukisan: Kemarau Bulungan, 08-08-1987, Karya Dt Aziz Saleh Masyur (DASMAN), foto koleksi Muhammad Zarkasy
Langganan:
Postingan (Atom)
